Pemkot Bontang dan MUI Bekali Generasi Muda Tangkal Radikalisme

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
28 Okt 2026 19:49
4 menit membaca

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bontang memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme di kalangan generasi muda melalui kegiatan Sosialisasi Deteksi Dini Penyebaran Paham Radikalisme.

Kegiatan yang diikuti pelajar, mahasiswa, dan organisasi kemasyarakatan tersebut berlangsung di Gedung MUI Kota Bontang, Rabu (28/10/2026) pagi. Pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan semangat menjaga persatuan.

Acara dibuka Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bontang, Dasuki, yang hadir mewakili Wali Kota Bontang.

Sejumlah unsur turut hadir, di antaranya jajaran TNI-Polri, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, pengurus pondok pesantren, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan.

Materi mengenai wawasan kebangsaan dan pencegahan radikalisme disampaikan oleh Pelaksana Harian (Plh) Kasatgaswil Kaltim Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Joko Dwi Harsono, S.I.K., M.Hum., bersama Panit Idensos Satgaswil Kaltim Densus 88, Andi Husin.

MUI Tekankan Pentingnya Menjaga Persatuan

Ketua MUI Kota Bontang, K.H. Misbahul Munir, menegaskan bahwa persatuan bangsa harus terus dijaga di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Ia mengingatkan pentingnya berpegang pada nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam sambutannya, ia menyebut ketiga prinsip tersebut sebagai landasan penting untuk menjaga keutuhan bangsa.

Menurut Misbahul Munir, penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme perlu diwaspadai karena dapat menyasar kelompok usia muda, mulai dari pelajar hingga mahasiswa. Ia juga menyoroti pola penyebaran melalui kelompok-kelompok tertutup yang menanamkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan para pendiri bangsa.

“Organisasi apa pun yang tidak berlandaskan Pancasila tidak layak hidup di Indonesia. Kita harus merapatkan barisan menjaga NKRI agar generasi muda kita tidak menjadi perongrong bangsa dan negara,” tegasnya.

Ia turut mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Bontang terhadap penyelenggaraan kegiatan pembinaan umat tersebut.

Dasuki: Potensi Pemuda Harus Diarahkan secara Positif

Sementara itu, Dasuki menyampaikan bahwa jumlah pemuda berusia 16 hingga 30 tahun di Kota Bontang mencapai sekitar 52.000 jiwa. Menurutnya, besarnya jumlah tersebut merupakan potensi yang perlu diarahkan melalui kegiatan positif, pendidikan, dan pengembangan keterampilan.

Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam pola pikir eksklusif yang merasa paling benar dan cenderung menyalahkan kelompok lain.

“Paham radikal itu pada dasarnya adalah cara pandang di mana orang merasa paling benar sendiri, menyendiri, dan gemar menyalahkan kelompok lain—seperti halnya karakteristik kaum Khawarij di masa lalu,” ujar Dasuki di hadapan peserta.

Selain penguatan wawasan kebangsaan, Dasuki juga mendorong pemuda Bontang agar memiliki mental tangguh dan tidak hanya bergantung pada peluang kerja di sektor industri skala besar.

Ia mengajak generasi muda untuk berani mencari peluang di berbagai bidang, meningkatkan kompetensi, serta berperan aktif dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun ekonomi kreatif.

Pemkot Siapkan Ruang Kreativitas dan Pelatihan Kerja

Sebagai bagian dari upaya mengarahkan aktivitas generasi muda ke kegiatan produktif, Pemerintah Kota Bontang telah menyiapkan sejumlah fasilitas dan program pengembangan kapasitas.

Fasilitas tersebut antara lain Rumah Kreasi Milenial dan sarana kepemudaan di perpustakaan daerah. Pemerintah juga menyediakan program pelatihan kerja, termasuk kesempatan mengikuti program pemberangkatan ke luar negeri seperti Jepang.

Melalui fasilitas dan program tersebut, pemuda diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan keterampilan, serta memperluas kesempatan kerja.

Tiga Pesan untuk Generasi Muda

Menutup arahannya, Dasuki menyampaikan tiga pesan kepada pelajar dan pemuda agar lebih waspada terhadap penyebaran paham radikalisme.

Pertama, saring sebelum berbagi informasi. Generasi muda diminta bijak menggunakan media sosial, memeriksa kebenaran informasi, dan tidak mudah menyebarkan konten yang belum terverifikasi.

Kedua, belajar agama dari sumber yang tepercaya. Ia mengingatkan pentingnya menimba ilmu agama dari guru yang memiliki kompetensi dan jalur keilmuan yang jelas, serta tidak hanya mengandalkan informasi instan dari internet.

Ketiga, membangun solidaritas positif. Pemuda diajak saling peduli, mengingatkan dalam kebaikan, dan membangun komunitas yang terbuka serta inklusif.

Melalui sosialisasi tersebut, Pemkot Bontang dan MUI berharap generasi muda semakin memiliki daya kritis dalam menyaring informasi, memperkuat pemahaman kebangsaan, serta berperan aktif menjaga persatuan dan keutuhan NKRI. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }