Dispora Kutim Dorong Generasi Muda Lestarikan Olahraga Tradisional

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
12 Okt 2026 10:24
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong generasi muda untuk terus melestarikan olahraga tradisional agar tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.

Upaya tersebut mendapat ruang melalui penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua 2026 yang menghadirkan sejumlah perlombaan permainan rakyat di Rumah Lamin Adat, Sangatta.

Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kutim itu mempertandingkan berbagai olahraga tradisional, mulai dari menyumpit, begasing, belogo, hingga ketapel.

Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, menilai keterlibatan masyarakat, komunitas, serta generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan permainan tradisional.

Menurutnya, olahraga warisan leluhur perlu terus dikenalkan agar keberadaannya tidak terbatas pada kegiatan seremonial atau perayaan adat.

Olahraga Tradisional Perlu Terus Dikenalkan

Pelaksanaan perlombaan dalam Erau Adat Pelas Benua menjadi salah satu sarana memperkenalkan kembali permainan rakyat kepada masyarakat.

Menyumpit, misalnya, merupakan permainan tradisional yang membutuhkan keterampilan membidik sasaran. Sementara begasing dan belogo menuntut ketangkasan serta penguasaan teknik permainan.

Selain menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal ragam olahraga yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Timur.

Melalui keterlibatan peserta dan komunitas, permainan tradisional berpeluang terus dipraktikkan di luar agenda perayaan adat.

Dispora Kutim Dorong Keterlibatan Generasi Muda

Basuki menilai keberlanjutan olahraga tradisional membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas.

Karena itu, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga agar permainan rakyat tidak hanya dikenal melalui cerita atau dokumentasi sejarah.

Olahraga tradisional juga dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial sekaligus memperkenalkan nilai budaya kepada masyarakat.

Kegiatan yang dipadukan dengan perayaan adat membuka kesempatan untuk memperluas pengenalan cabang olahraga tradisional kepada pengunjung dari berbagai daerah.

Selain bernilai budaya, perlombaan semacam ini berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari atraksi wisata daerah.

“Pengembangan wisata budaya juga berpeluang membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk kuliner, kerajinan, serta cenderamata khas daerah,” kata Basuki.

Melalui keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, Dispora Kutim berharap olahraga tradisional tetap memiliki ruang untuk berkembang dan dikenal oleh generasi berikutnya. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }