Meski Kerap Ditegur, Balap Liar di Kawasan Kantor Wali Kota Bontang Masih Berulang, Security Ungkap Fakta di Lapangan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
2 Jun 2026 10:27
3 menit membaca

BONTANG – Penertiban balap liar yang dilakukan Satlantas Polres Bontang di kawasan Kantor Wali Kota Bontang dengan mengamankan 69 unit sepeda motor mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk petugas keamanan yang sehari-hari berjaga di kawasan tersebut.

Salah satu petugas keamanan Pemkot Bontang, Susandi, mengungkapkan bahwa aktivitas balap liar di kawasan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, petugas keamanan sudah berulang kali memberikan teguran kepada para pengendara yang memanfaatkan jalan di sekitar kawasan perkantoran untuk beraksi.

“Kalau ada yang membuat keributan atau balapan, pasti kami tegur. Bukan kami diam saja melihat. Sudah sering sekali kami tegur, bahkan kadang sampai terjadi adu argumen dengan mereka,” ujar Susandi.

Ia menjelaskan, kawasan Kantor Wali Kota Bontang memang kerap dikenal masyarakat sebagai lokasi balap karena beberapa kali digunakan sebagai lintasan sementara saat ada kegiatan balap resmi. Namun kondisi itu sering disalahartikan oleh sejumlah remaja yang kemudian menjadikannya lokasi balapan liar.

“Memang masyarakat tahunya ini tempat balapan karena pernah dipakai sirkuit sementara. Padahal kalau kegiatan resmi itu jalannya ditutup dan ada pengamanan. Kalau balap liar tentu berbeda, itu melanggar aturan,” katanya.

Menurut Susandi, pelaku balap liar didominasi remaja bahkan sebagian masih berstatus pelajar. Tidak jarang petugas menemukan anak-anak yang datang menggunakan seragam sekolah maupun pengendara di bawah umur.

“Kebanyakan anak-anak. Kadang kami lihat masih usia sekolah. Mereka tahunya di sini tempat balapan, padahal itu sudah salah dan berbahaya,” ujarnya.

Lebih memprihatinkan lagi, kata dia, aktivitas tersebut sering memicu kecelakaan. Bahkan beberapa insiden yang terjadi mengakibatkan korban mengalami luka serius hingga patah tulang.

“Sudah sering terjadi kecelakaan. Bahkan ada yang sampai patah tulang. Mereka banyak yang tidak pakai helm. Kami selalu ingatkan, ini yang dipertaruhkan nyawa mereka sendiri,” tegasnya.

Selain balapan liar, petugas keamanan juga mengaku menemukan indikasi adanya taruhan atau perjudian di kalangan pelaku yang menonton maupun mengikuti balapan.

“Itu yang paling kami sayangkan. Kadang bukan cuma balapan, ada juga unsur taruhan. Makanya kami selalu berusaha membubarkan dan menegur mereka,” katanya.

Meski demikian, Susandi menjelaskan bahwa kewenangan petugas keamanan Pemkot memiliki batasan karena hanya bertugas mengamankan area perkantoran. Sementara lintasan yang sering digunakan pembalap liar juga melintasi sejumlah ruas jalan di luar area pengamanan langsung Pemkot.

Karena itu, ia menilai langkah penertiban yang dilakukan kepolisian sudah tepat untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan menjaga ketertiban di kawasan tersebut.

“Kalau menurut saya, penertiban memang perlu dilakukan. Jangan sampai nanti ada korban yang lebih parah. Kendaraan masih bisa diperbaiki, tapi kalau nyawa bagaimana? Itu yang selalu kami sampaikan kepada mereka,” pungkasnya.(irw)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }