Ilustrasi aktivitas di pelabuhan.KALTIM – Neraca perdagangan Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat surplus besar pada Februari 2026. Namun, di balik angka itu tersimpan ironi: surplus lebih banyak ditopang anjloknya impor ketimbang lonjakan ekspor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan nilai ekspor mencapai US$1,67 miliar, naik 5,53 persen dibanding Januari 2026. Sementara itu, impor justru merosot tajam 45,51 persen menjadi US$347,44 juta. Selisih keduanya menghasilkan surplus US$1,32 miliar.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menyebut kenaikan ekspor terutama didorong sektor migas yang melonjak 97,39 persen menjadi US$228,85 juta.
Kenaikan migas tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan struktur ekspor. Ekspor nonmigas justru turun 1,72 persen menjadi US$1,44 miliar.
Penurunan ini terutama disebabkan merosotnya ekspor bahan bakar mineral sebesar US$121,29 juta atau 10,47 persen—komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Kaltim.
Sebaliknya, komoditas lemak dan minyak nabati mencatat lonjakan tertinggi, naik 38,83 persen atau setara US$77,20 juta.
Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok tetap menjadi pasar utama dengan nilai US$1,09 miliar atau 37,38 persen sepanjang Januari–Februari 2026. Disusul India US$385,93 juta dan Filipina US$254,80 juta.
Aktivitas ekspor terbesar tercatat melalui pelabuhan Balikpapan, Samarinda, dan Bonthan Bay—menegaskan peran strategis kawasan pesisir Kaltim dalam rantai perdagangan global.
Di sisi lain, penurunan impor terjadi drastis, terutama pada sektor migas yang anjlok 55,11 persen menjadi US$262,23 juta.
Meski demikian, impor nonmigas justru meningkat 59,51 persen menjadi US$85,21 juta, didorong oleh kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis.
Secara keseluruhan, impor masih didominasi bahan baku dan penolong dengan porsi 96,42 persen—menunjukkan tingginya ketergantungan industri pada pasokan luar negeri.
Secara kumulatif, nilai ekspor Kaltim Januari–Februari 2026 mencapai US$3,26 miliar, namun turun 6,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Mas’ud menilai, tren ini menjadi sinyal perlunya diversifikasi komoditas dan pasar ekspor. Ketergantungan pada bahan bakar mineral—yang menyumbang lebih dari 75 persen ekspor nonmigas—membuat ekonomi daerah rentan terhadap fluktuasi harga global.
“Surplus besar ini lebih dipengaruhi penurunan impor, bukan ekspansi ekspor yang kuat,” ujarnya. (RIL/DIAS)
Tidak ada komentar