Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, keluarga salah satu tahanan WNA mendatangi Polda Kalimantan Timur untuk menyampaikan apresiasi atas pendekatan humanis yang diterapkan Ditresnarkoba dalam proses penegakan hukum.BALIKPAPAN – Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026, sebuah momen penuh makna terjadi di Markas Polda Kalimantan Timur. Seorang perempuan yang merupakan istri dari salah satu tahanan secara khusus datang untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kaltim atas pelayanan yang dinilainya humanis selama proses hukum berlangsung.
Perempuan tersebut adalah istri dari WF, warga negara Belanda yang saat ini menjalani proses hukum di Ditresnarkoba Polda Kaltim. Kehadirannya menjadi bentuk apresiasi atas perlakuan yang menurutnya tidak hanya mengedepankan penegakan hukum, tetapi juga menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Momen itu sekaligus menjadi gambaran nyata implementasi program “Beyond The Prisoners” yang selama beberapa bulan terakhir dijalankan Ditresnarkoba Polda Kaltim. Program ini menekankan pendekatan kemanusiaan dalam proses penanganan perkara tanpa mengurangi ketegasan terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan para tersangka.
Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Komisaris Besar Polisi Romylus, menegaskan bahwa setiap orang yang berhadapan dengan hukum tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat.
“Penegakan hukum harus berjalan tegas, tetapi pada saat yang sama kami juga wajib menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Melalui prinsip Beyond The Prisoners, kami berusaha melihat para tahanan sebagai manusia yang masih memiliki keluarga, harapan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri,” ujar Romylus, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, prinsip tersebut diwujudkan melalui pelayanan yang mengedepankan empati, kepedulian, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap hak-hak dasar tahanan selama menjalani proses hukum.
Ia menambahkan, pendekatan humanis merupakan bagian dari upaya menghadirkan wajah Polri yang profesional sekaligus dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan Polri yang profesional dan humanis. Ketika ada keluarga tahanan yang datang secara langsung untuk menyampaikan apresiasi, tentu hal itu menjadi motivasi bagi seluruh personel untuk terus memberikan pelayanan terbaik,” katanya.
Romylus menegaskan bahwa penghormatan terhadap nilai kemanusiaan merupakan bagian dari transformasi institusi Polri yang terus didorong hingga ke tingkat pelaksanaan di lapangan.
“Kami percaya pelayanan yang dilandasi kepedulian, empati, dan ketulusan tidak akan mengurangi ketegasan hukum. Justru nilai-nilai tersebut dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri,” ujarnya.
Bagi keluarga WF, pengalaman selama proses penahanan memberikan kesan tersendiri. Mereka menilai para penyidik tidak hanya menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga menunjukkan perhatian terhadap aspek kemanusiaan para tahanan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi institusi kepolisian, kisah sederhana ini menjadi warna tersendiri menjelang Hari Bhayangkara ke-80. Sebuah pengingat bahwa di balik ketegasan penegakan hukum, terdapat ruang bagi empati, kepedulian, dan pelayanan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui pendekatan tersebut, Ditresnarkoba Polda Kaltim berharap kehadiran Polri tidak hanya dirasakan sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai institusi yang mampu menghadirkan rasa keadilan, kepastian hukum, dan kemanusiaan bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)
Tidak ada komentar