
BALIKPAPAN — Di tengah musim kemarau dan minimnya curah hujan yang mulai memicu kekhawatiran terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kodam VI/Mulawarman menggelar salat Istisqa dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan.
Salat Istisqa digelar di Lapangan Upacara Makodam VI/Mulawarman, Balikpapan, Sabtu (29/8/2026) pagi.
Kegiatan tersebut tidak hanya dilaksanakan di Makodam. Salat Istisqa dan doa bersama juga digelar secara serentak di dua Korem dan 15 Kodim jajaran Kodam VI/Mulawarman yang berada di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Secara keseluruhan, sekitar 850 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Salat Istisqa merupakan ibadah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan, sekaligus menjadi ikhtiar spiritual menghadapi dampak kondisi alam yang semakin kering.
Pelaksanaan salat Istisqa di Makodam VI/Mulawarman dihadiri Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, Kasdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan, Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo, Asisten I Bidang Pemerintahan Pemkot Balikpapan Zulkifli, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Balikpapan Dody Setiawan, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Bertindak sebagai imam, Ustadz H. Khoirul Fatoni, sedangkan khotbah disampaikan oleh Ustadz H. Irfanuddin Hashim.
Titik Api Mulai Bermunculan
Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono mengatakan, kondisi kemarau dan minimnya curah hujan mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Kaltim dan Kaltara.
“Kekeringan berakibat pada sulitnya air bersih sampai dengan kebakaran hutan dan lahan,” kata Krido seusai pelaksanaan salat Istisqa.
Menurut dia, dalam beberapa waktu terakhir titik-titik api mulai bermunculan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, Krido menegaskan bahwa pelaksanaan salat Istisqa tidak semata-mata dimaknai sebagai permohonan agar hujan segera turun.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan manusia tentang keterbatasan dalam menghadapi kondisi alam.
Ia mengajak masyarakat memperbanyak istigfar, memohon ampun kepada Allah SWT, serta memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati.
Namun demikian, menurut Krido, doa harus berjalan seiring dengan usaha nyata.
“Perubahan membutuhkan usaha, maka doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan agar Allah mewujudkan apa yang kita inginkan bersama,” ujarnya.
Pangdam: Jangan Bakar Lahan
Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, Pangdam VI/Mulawarman secara tegas meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Ia mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar, dan selalu laporkan titik api sekecil apa pun,” tegas Krido.
Selain membuka lahan dengan cara membakar, masyarakat juga diminta tidak membakar sampah sembarangan.
Menurut Krido, ancaman kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan hutan dan lahan, tetapi juga perlu diwaspadai di lingkungan permukiman, perkantoran, tempat ibadah hingga pusat perbelanjaan.
Gangguan instalasi kelistrikan dan kelalaian manusia, kata dia, juga menjadi faktor yang harus diantisipasi bersama.
Krido turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla di Kaltim dan Kaltara.
Apresiasi itu diberikan kepada prajurit TNI, Polri, BPBD, Basarnas, pemerintah daerah, relawan, masyarakat, dan berbagai unsur lain yang terlibat dalam pencegahan maupun pemadaman kebakaran.
Belajar dari Kemarau pada Zaman Nabi
Sementara itu, Khotib Salat Istisqa, Ustadz H. Irfanuddin Hashim, mengingatkan jemaah bahwa kekeringan dan kemarau panjang bukan hanya terjadi pada masa sekarang.
Menurutnya, kondisi serupa juga pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW dan masa kepemimpinan Umar bin Khattab.
Ia menjelaskan, Salat Istisqa merupakan bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah SWT agar diberikan hujan dan keberkahan.
“Allah SWT menurunkan hujan-Nya dari langit kepada kita. Siramilah kita dengan keberkahan hujan dari Allah SWT,” kata Irfanuddin dalam khotbahnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa turunnya hujan setelah Salat Istisqa tidak semata-mata harus dimaknai sebagai bukti kehebatan manusia dalam berdoa.
“Andai setelah Salat Istisqa ini kemudian Allah menurunkan hujan, maka ketahuilah bahwa hujan itu bukan karena hebatnya doa kita, bukan semata-mata karena makbulnya doa kita kepada Allah SWT, tetapi karena begitu Rahman dan Rahimnya Allah kepada kita,” ujarnya.
Sebaliknya, apabila hujan belum juga turun, umat Islam diminta tetap bersabar, bertawakal, dan menerima ketentuan Allah SWT.
“Allah SWT sedang mengajarkan kepada kita untuk terus belajar, bersabar, bertawakal dan pasrah kepada apa yang telah menjadi takdir dan ketentuan-Nya,” katanya.
Dalam khotbahnya, Irfanuddin juga mengisahkan kemarau panjang yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW hingga menyebabkan manusia dan makhluk hidup menghadapi kesulitan mendapatkan air.
Kondisi kekeringan serupa juga pernah terjadi pada masa Umar bin Khattab sebagai Amirul Mukminin. Saat Madinah dilanda kemarau panjang, Umar kemudian mengajak kaum muslimin melaksanakan Salat Istisqa.
Menurut Irfanuddin, kebutuhan terhadap air tidak hanya dirasakan manusia, tetapi seluruh makhluk hidup.
“Yang butuh kepada air tidak hanya manusia. Yang butuh kepada air tidak hanya makhluk hidup bernama anak Adam, tetapi termasuk hewan-hewan dan binatang-binatang. Mereka semua juga membutuhkan air,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh jemaah untuk datang kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati, mengakui kelemahan sebagai hamba, serta memperbanyak istigfar dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan.
Ia juga memanjatkan doa agar hujan segera turun di Indonesia, khususnya Balikpapan dan wilayah Kalimantan yang tengah menghadapi kondisi kering serta ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“Meminta pertolongan kepada Allah SWT, meminta uluran belas dan kasih sayang Allah kepada kita, agar Allah menurunkan hujan kepada negeri kita Indonesia, Balikpapan khususnya, serta wilayah-wilayah di Kalimantan yang sedang menghadapi bencana kebakaran hutan,” kata Irfanuddin.
Pelaksanaan Salat Istisqa ini menjadi momentum untuk memadukan doa dan ikhtiar dalam menghadapi dampak musim kemarau.
Di tengah ancaman kekeringan dan karhutla, Kodam VI/Mulawarman mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya berharap pada turunnya hujan, tetapi juga mengambil peran nyata dalam mencegah api muncul dan meluas.
Sebab, ketika kemarau memperbesar risiko kebakaran, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu benteng pertama untuk mencegah bencana. (*)
Tidak ada komentar