Media dan Narasi Jadi Medan Pertempuran Baru, Ini Pesan Pangdam VI/Mulawarman

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
30 Agu 2026 13:14
4 menit membaca

BALIKPAPAN – Perang modern tak lagi hanya berlangsung di medan tempur dengan kekuatan senjata dan pasukan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pertempuran juga terjadi melalui narasi, informasi, opini publik, hingga media sosial.

Dalam konteks itulah, media massa dinilai memiliki peran yang semakin strategis.

Pesan tersebut disampaikan Pangdam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, saat berbincang santai bersama sejumlah wartawan di Warung Makan Yogyakarta Istimewa, Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Krido, perkembangan teknologi telah mengubah pola konflik secara signifikan. Jika sebelumnya peperangan lebih banyak dipahami sebagai pertarungan kekuatan militer, kini ruang konflik berkembang jauh lebih luas.

“Peperangan tidak hanya kekuatan militer atau kombatan melawan kombatan. Non-kombatan juga terjadi. Seiring kemajuan teknologi dan zaman, berbagai pola dalam peperangan juga berkembang,” ujar Krido.

Ia menjelaskan, konflik modern tidak hanya menyentuh persoalan militer. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya hingga informasi kini dapat menjadi bagian yang menentukan arah sebuah konflik.

Karena itu, keberadaan media dan kekuatan narasi di ruang publik tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Media adalah kekuatan besar kita bersama untuk memenangkan pertempuran. Sekarang kita bisa melihat, di berbagai negara, bukan hanya di Indonesia, narasi-narasi yang dilontarkan melalui media juga bisa menjadikan suatu konflik menjadi besar,” katanya.

Menurutnya, kemenangan dalam perang informasi dapat memberikan pengaruh besar terhadap situasi di lapangan. Dalam kondisi tertentu, keberhasilan menguasai narasi bahkan dapat menjadi bagian dari kemenangan dalam sebuah pertempuran, baik secara fisik maupun nonfisik.

Informasi Harus Berpijak pada Fakta

Meski menilai media sebagai kekuatan besar, Krido menekankan pentingnya tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Ia berharap wartawan tetap menjalankan tugas jurnalistik dengan mengedepankan data, fakta, keberimbangan, dan kepentingan publik.

Menurutnya, pemberitaan harus mampu menggambarkan kondisi yang sebenarnya terjadi. Media tidak boleh menutup-nutupi persoalan, tetapi juga harus objektif dalam melihat hal-hal positif yang terjadi di tengah masyarakat.

“Apabila ada yang memang tidak baik, diberitakan yang tidak baik. Apabila ada yang baik, diberitakan yang baik. Ketika melihat komposisinya, sejauh mana ini baik dan sejauh mana ini jelek, ketika ternyata banyak baiknya, kita harus secara jujur mengekspos yang baik,” tuturnya.

Krido juga mengingatkan tentang derasnya arus informasi di media sosial. Menurutnya, sebuah persoalan kecil dapat berkembang menjadi isu besar ketika dikemas dengan narasi yang berlebihan.

“Kadang-kadang masalah yang sebetulnya sepele, kecil, kemudian dikembuskan dengan narasi yang hebat sehingga seolah-olah menjadi besar impact-nya,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, lanjut dia, menjadi semakin penting untuk diwaspadai karena masyarakat, khususnya generasi muda, sangat dekat dengan teknologi digital dan menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber utama informasi.

“Generasi-generasi yang sekarang memegang digital, yang mendapatkan informasi melalui media sosial, bisa menjadi terpengaruh. Hal-hal kecil ini bisa menjadi provokasi dan bahkan menjadikan kerugian bagi kita semuanya,” jelasnya.

Wartawan di Garis Depan Ruang Digital

Di hadapan para wartawan, Pangdam VI/Mulawarman itu mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi yang disampaikan kepada publik.

Ia menilai wartawan memiliki posisi penting dalam memberikan informasi sekaligus pencerahan kepada masyarakat.

“Untuk Bapak-bapak wartawan, berikan yang terbaik. Wartawan juga menjadi energi, menjadi bagian dari perang di garis depan secara digital, secara publikasi,” tegasnya.

Krido menambahkan, masyarakat merupakan salah satu kekuatan penting dalam menjaga stabilitas. Karena itu, hubungan antara aparat, pemerintah, media, dan masyarakat harus dibangun melalui komunikasi yang sehat dan saling memahami.

Ia berharap media tidak hanya menjalankan fungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga mampu memberikan pencerahan melalui pemberitaan yang akurat dan berimbang.

Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan media dapat membawa pengaruh besar terhadap cara masyarakat melihat sebuah persoalan.

Informasi yang akurat dan terverifikasi dapat membantu publik memahami persoalan secara utuh. Sebaliknya, informasi yang keliru, berlebihan, atau tidak proporsional berpotensi memperbesar persoalan yang sebenarnya.

Bagi Pangdam VI/Mulawarman, tantangan perang informasi adalah bagian dari realitas zaman yang harus dihadapi bersama. Media berada di garis depan ruang publik, sementara wartawan tetap memegang peran penting untuk memastikan setiap informasi berpijak pada fakta, keberimbangan, dan kepentingan masyarakat. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }