Wali Kota Bontang didamping Eko Mashudi mengelilingi keramaian Creative Night Market, Sabtu (25/4/2026) malam.
RIBUAN warga memadati Creative Night Market (CNM) di Jalan Cut Nyak Dien, Bontang Utara, Sabtu malam (25/4/2026). Sekira 2 ribu pengunjung datang silih berganti, membuat gelaran ini tidak sekadar ramai—tetapi juga memicu perputaran uang hingga Rp300 juta hanya dalam waktu sekira 6 jam.
Lonjakan pengunjung berdampak langsung pada pelaku usaha. Sekira 100 UMKM yang terlibat mengaku mampu mencapai titik impas (break even point/BEP) dalam waktu singkat. Kondisi ini menunjukkan respons cepat pasar terhadap produk lokal yang dikemas dalam konsep hiburan dan interaksi terbuka.
Kepala Disporapar-Ekraf Bontang, Eko Mashudi, menyebut fenomena tersebut sebagai indikator kuat bahwa ruang ekonomi kreatif berbasis komunitas memiliki daya dorong nyata terhadap konsumsi masyarakat. Menurut dia, CNM bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga ruang temu antara hiburan, kreativitas, dan transaksi ekonomi.
“Ini bukan sekadar pasar malam. Ini ruang bertemunya kreativitas, hiburan, dan ekonomi masyarakat,” ujar Eko, kepada Pranala.co, Minggu (26/4/2026).
Di lokasi, pengunjung tidak hanya berburu kuliner, tetapi juga menikmati pertunjukan seni dan melihat langsung produk-produk kreatif lokal. Pola ini menciptakan efek tinggal lebih lama (longer stay), yang berkontribusi pada meningkatnya belanja per pengunjung.
Eko menjelaskan, capaian perputaran uang ratusan juta rupiah dalam waktu singkat menjadi gambaran bahwa daya beli masyarakat tetap ada, selama disajikan dalam format yang menarik dan mudah diakses. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi pelaku UMKM dalam meningkatkan kualitas produk, pelayanan, dan strategi pemasaran.
Berbeda dengan kegiatan berbasis anggaran besar, CNM justru digerakkan oleh kolaborasi. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dengan dukungan terbatas, sementara pelaksanaan banyak ditopang swadaya masyarakat, termasuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan komunitas ekonomi kreatif.
Ke depan, CNM direncanakan menjadi agenda rutin bulanan dan akan diperluas ke wilayah lain seperti Bontang Barat dan Bontang Selatan. Namun, pengembangan tersebut bergantung pada kesiapan komunitas lokal, terutama keberadaan Pokdarwis sebagai penggerak di tingkat wilayah. [FR]
Tidak ada komentar