OPINI : Merawat Rumah Tangga, Menenun Peradaban: Memahami Esensi Keluarga Sakinah

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
27 Jul 2026 11:50
3 menit membaca

Oleh: Yunita Salsabilla Sari S.KM. 

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, setiap pasangan tentu mendambakan kehidupan yang harmonis, damai, dan membahagiakan. Namun, keharmonisan itu tidak datang begitu saja secara instan. Diperlukan panduan, komitmen, dan pemahaman yang matang untuk merawat keutuhan rumah tangga.

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah, acuan mengenai hal ini sudah dirumuskan secara komprehensif salah satunya berpijak dari hasil Keputusan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih yang menegaskan bahwa Keluarga Sakinah bukan sekadar impian privat, melainkan fondasi utama pembentukan masyarakat yang berkemajuan.

Keluarga sebagai Unit Terkecil Peradaban

Seringkali kita lupa bahwa kualitas suatu bangsa dan masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas unit terkecilnya: keluarga. Jika fondasi keluarga kuat, harmonis, dan berdaya, maka desa, masyarakat, hingga negara pun akan turut kuat.

Konsep keluarga sakinah yang digaungkan Muhammadiyah tidak berhenti pada urusan ketenangan internal rumah tangga saja. Lebih dari itu, keluarga sakinah adalah “pintu masuk” sekaligus laboratorium sosial pertama untuk melahirkan insan-insan yang bertakwa, bahagia lahir batin, serta memiliki orientasi kemajuan peradaban.

Hal ini sejalan dengan spirit Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Ali Imran ayat 110, di mana umat Islam didorong untuk menjadi khairu ummah (umat terbaik) yang senantiasa menyeru pada kebajikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. Peran strategis ini tentu harus dimulai dari rumah masing-masing.

Pilar Penting Membangun Keluarga Sakinah

Merujuk pada tuntunan resmi Muhammadiyah, membangun keluarga sakinah bertumpu pada beberapa pilar utama:

1. Berbasis Tauhid dan Ketakwaan

Segala sendi kehidupan rumah tangga harus disandarkan pada nilai-nilai ilahiah. Al-Qur’an dan As-Sunnah dijadikan kompas utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan, mulai dari pengambilan keputusan kecil hingga besar di dalam rumah.

2. Relasi Suami-Istri yang Setara dan Kemitraan (Mu’asyarah bil Ma’ruf)

Dalam pandangan Muhammadiyah, suami dan istri bukanlah pihak yang saling mendominasi, melainkan mitra sejajar yang saling menguatkan. Pembagian peran dijalankan secara adil, demokratis, dan penuh musyawarah, dengan tetap menghargai martabat masing-masing.

3. Cinta dan Kasih Sayang (Mawaddah wa Rahmah)

Mengamalkan pesan QS. Ar-Rum ayat 21, rumah tangga harus dikelola dengan energi cinta dan kasih sayang. Suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain saling melindungi, menutupi kekurangan, dan menguatkan di kala suka maupun duka.

4. Pengasuhan Anak Berbasis Akhlak dan Kemajuan

Anak adalah amanah sekaligus qurrata a’yun (penyejuk mata dan hati). Di tengah tantangan zaman modern yang kian kompleks, orang tua dituntut hadir tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membentengi anak dengan akidah yang lurus, literasi digital yang sehat, serta karakter mulia.

5.. Kepedulian Sosial dan Dakwah

Keluarga sakinah yang ideal tidak boleh bersikap egois atau menutup diri dari lingkungan sekitar. Rumah tangga Islam harus menjadi teladan di tengah masyarakat aktif menebar kebaikan, ringan tangan membantu tetangga, dan peka terhadap dinamika sosial.

Menjawab Tantangan Zaman

Membangun dan merawat keluarga sakinah di era digital saat ini tentu tidak bebas dari ujian. Mulai dari distraksi gawai yang mengurangi kehangatan komunikasi langsung, tekanan ekonomi, hingga pergeseran nilai moral global.
Oleh karena itu, penguatan ketahanan keluarga mutlak diperlukan. Dibutuhkan komunikasi dua arah yang jujur, keterbukaan mental, serta kesadaran bahwa pernikahan adalah ibadah panjang yang menuntut kesabaran ekstra dan evaluasi diri yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, keluarga sakinah adalah ikhtiar merajut surga di dunia (Baiti Jannati). Ketika suami dan istri mampu berjalan seirama dalam ketaatan, maka dari rumah-rumah kecil inilah cikal bakal masyarakat berkemajuan akan lahir dan mencerahkan semesta alam. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }