Kontribusi Ekonomi Non-Ekstraktif Kutim Tembus 30 Persen, UMKM Dipacu Naik Kelas

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
27 Sep 2026 22:18
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mempercepat diversifikasi ekonomi dengan memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif. Kontribusi sektor non-ekstraktif terhadap PDRB disebut meningkat hingga sekitar 30 persen pada 2025, setelah pada 2023 masih berada pada kisaran 10–15 persen.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengatakan daerah tidak dapat terus bergantung pada batu bara dan migas. Sumber daya ekstraktif memiliki batas, sementara kesejahteraan masyarakat membutuhkan kegiatan ekonomi yang lebih luas dan tersebar.

“Batu bara dan migas tidak dapat terus memberikan kesejahteraan dan pemerataan sepenuhnya kepada masyarakat, terlebih suatu saat akan habis, sehingga pemda harus terus mendorong sektor ekonomi kreatif dan UMKM,” ujar Ardiansyah.

Pemerintah mencatat pertumbuhan mulai terlihat pada UMKM, industri rumah tangga, pariwisata, dan perhotelan. Ardiansyah meminta perangkat daerah lebih proaktif mendampingi pelaku usaha yang memiliki potensi berkembang, termasuk membuka akses terhadap dukungan permodalan.

Diversifikasi juga diarahkan ke pertanian dan peternakan berbasis teknologi. Konsep pertanian terintegrasi dan hidroponik dinilai dapat menjadi pilihan ketika keterbatasan lahan menjadi kendala.

Ardiansyah turut menyambut peran komunitas Tangan Di Atas Sangatta yang menjadi wadah pembinaan wirausaha muda. Pemerintah berharap lokakarya bisnis dapat melahirkan pelaku usaha baru yang mampu memperluas lapangan kerja.

Ketua TDA Sangatta periode 2026–2029, Nanin, mengatakan organisasi akan menyelaraskan program dengan arah kebijakan daerah dan nasional. Fokusnya meliputi regenerasi anggota, peningkatan kapasitas bisnis, serta pemanfaatan teknologi digital.

“Prioritas mencakup regenerasi anggota, peningkatan kapasitas bisnis, pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi TDA Passport untuk tata kelola keanggotaan dan usaha,” kata Nanin.

Salah satu agenda yang disiapkan adalah Pasar Wirausaha serta pendampingan agar produk lokal dapat menembus pasar lebih luas. Pemkab berharap penguatan sektor non-ekstraktif membuat manfaat pertumbuhan lebih merata.

Pemkab juga mendorong penerapan teknologi pada pertanian dan peternakan. Ardiansyah menilai pertanian terintegrasi dan hidroponik dapat membantu mengatasi keterbatasan lahan sekaligus memperluas sumber penghasilan masyarakat di luar sektor pertambangan.

“Batu bara dan migas tidak dapat terus memberikan kesejahteraan dan pemerataan sepenuhnya kepada masyarakat,” tegas Ardiansyah. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }