Kepala Sekolah Soroti Beasiswa Stimulan Kutim, Siswa Tak Mampu Justru Terancam Tak Kebagian

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
21 Agu 2026 19:43
3 menit membaca

KUTIM – Ketepatan sasaran penerima Beasiswa Stimulan Kutai Timur (Kutim) 2026 kembali menjadi perhatian. Sejumlah kepala sekolah dan guru mengungkap masih adanya persoalan dalam menentukan siswa yang benar-benar layak menerima bantuan pendidikan tersebut.

Sorotan itu disampaikan dalam sosialisasi Beasiswa Stimulan Siswa Kutim 2026 yang digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kutim di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Kamis (20/8/2026).

Dalam forum tersebut, pihak sekolah mengungkap sejumlah persoalan yang masih ditemukan di lapangan. Mulai dari sulitnya menentukan kategori siswa kurang mampu, potensi penerimaan beasiswa secara ganda, hingga nasib pelajar asal Kutim yang menempuh pendidikan di luar daerah.

Kepala SMAN 1 Teluk Pandan, Siti Yuliana, mempertanyakan mekanisme penetapan kuota sekaligus ketepatan sasaran penerima bantuan, khususnya bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

Menurutnya, pihak sekolah kerap menghadapi dilema ketika harus menentukan siapa yang benar-benar masuk kategori membutuhkan bantuan.

“Di sekolah kami, di masyarakat Teluk Pandan, itu susah sekali untuk menentukan mana yang miskin yang benar-benar miskin atau miskin palsu,” ujar Siti saat sesi tanya jawab.

Ia bahkan mengungkap pernah menemukan kondisi ketika siswa yang secara ekonomi dinilai lebih mampu justru mendapatkan beasiswa, sementara siswa yang dianggap lebih membutuhkan belum memperoleh bantuan.

“Ketika kami mendaftar anak-anak kami yang dapat beasiswa, ternyata yang dapat justru yang punya mobil, yang punya motor banyak, dan orang tuanya ada yang pengusaha kelapa sawit dan sebagainya,” ungkapnya.

Soroti Potensi Beasiswa Ganda

Selain persoalan ketepatan sasaran, Siti juga menyoroti kemungkinan seorang siswa menerima lebih dari satu program beasiswa.

Menurutnya, siswa di sekolah dapat mengakses sejumlah program bantuan pendidikan, seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Beasiswa Kutim Tuntas, maupun bantuan dari anggota DPR RI.

“Beberapa beasiswa kan tidak hanya Kutim Tuntas, ada beasiswa PIP, ada juga beasiswa dari Anggota DPR RI Dapil Kaltim Hetifah, dan beberapa anak kami mendapatkan dobel beasiswa,” jelasnya.

Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian agar distribusi bantuan pendidikan dapat dilakukan secara lebih merata dan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum mendapatkan bantuan.

Siswa Layak Malah Tak Mendapat Bantuan

Persoalan serupa juga disampaikan Guru SMAN 2 Sangatta Utara, Ningtyas. Ia mengungkapkan masih terdapat siswa di sekolahnya yang dinilai layak menerima bantuan, tetapi justru tidak masuk sebagai penerima.

“Jadi ternyata masih ada siswa kami yang memang seharusnya berhak, malah enggak dapat,” ungkapnya.

Ningtyas meminta adanya kejelasan mengenai kewenangan sekolah dalam menentukan 15 calon penerima beasiswa.

Menurutnya, sekolah memiliki pengetahuan lebih dekat mengenai kondisi sosial dan ekonomi siswa sehingga semestinya dilibatkan secara optimal dalam proses seleksi.

Ia juga mempertanyakan peluang siswa yang telah menerima PIP untuk memperoleh Beasiswa Stimulan serta mekanisme bagi anak-anak asli Kutim yang melanjutkan pendidikan di luar daerah.

“Kami juga butuh penjelasan untuk anak-anak Kutai Timur, bukan hanya anak yang sekolah di sini, tetapi yang lebih mengalah biasanya di luar,” tambahnya.

Pemkab: Sekolah Paling Tahu Kondisi Siswa

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kabag Kesra Setkab Kutim, Norhadi, menegaskan pemerintah daerah dalam program tersebut berperan sebagai penyedia sekaligus penyalur anggaran.

Sementara untuk menentukan calon penerima, pihak sekolah dinilai memiliki peran penting karena paling mengetahui kondisi masing-masing siswa.

“Yang tahu di dalamnya adalah sekolah,” tegas Norhadi.

Karena itu, ia meminta sekolah dapat menjalankan proses seleksi dengan cermat agar bantuan yang diberikan pemerintah benar-benar sesuai dengan kriteria dan kebutuhan penerima.

Norhadi juga menjelaskan bahwa penerima Beasiswa Stimulan Kutim tidak semata-mata berasal dari kelompok siswa kurang mampu.

Program tersebut juga mencakup siswa yang memiliki prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Termasuk di dalamnya siswa yang berprestasi dalam kegiatan seperti Paskibraka maupun Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

Pemkab Kutim berharap melalui koordinasi yang lebih baik antara pemerintah daerah dan pihak sekolah, persoalan ketepatan sasaran dapat diminimalkan sehingga program beasiswa benar-benar memberikan manfaat bagi pelajar Kutim yang membutuhkan maupun yang berprestasi. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }