IlustrasiPROGRAM insentif dokter spesialis Kaltim mulai disiapkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mengatasi ketimpangan tenaga medis di wilayah terpencil.
Ini faktanya, distribusi dokter spesialis masih menumpuk di kota, sementara daerah pelosok kekurangan layanan kesehatan.
Upaya ini digagas melalui riset Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim bersama akademisi Universitas Mulawarman dan Dinas Kesehatan.
Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, mengatakan riset ini bertujuan merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
“Riset ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi kebijakan yang komprehensif dan aplikatif,” ujarnya di Samarinda, Sabtu.
Menurut dia, kolaborasi lintas lembaga dilakukan untuk memastikan tenaga medis berkualitas tidak hanya terpusat di perkotaan.
Tim peneliti kini mengkaji sejumlah faktor penting. Mulai dari beban kerja, lokasi penugasan, kelangkaan profesi, hingga akses fasilitas kesehatan.
“Kondisi sosial masyarakat di wilayah pelosok juga menjadi indikator utama,” kata Fitriansyah.
Pendekatan berbasis data dinilai penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Selain insentif finansial, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang. Salah satunya pendidikan dokter spesialis berbasis kebutuhan daerah.
Sementara itu, peningkatan infrastruktur layanan kesehatan di wilayah terpencil juga menjadi perhatian utama.
“Fasilitas kesehatan yang memadai adalah kunci keberhasilan penugasan dokter spesialis,” ujarnya.
Sebagai pembanding, tim riset mengkaji praktik di Papua dan Natuna. Evaluasi juga dilakukan terhadap sistem penugasan di sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Begini, hasil perbandingan itu akan menjadi dasar penyusunan model kebijakan yang lebih fleksibel dan adil. [DIAS]
Tidak ada komentar