Deo-Sinta Kini di Tabang Zoo, Kebiasaan Lama Tetap Dipertahankan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
28 Sep 2026 12:28
3 menit membaca

KUTAI KARTANEGARA – Dua gajah sumatera, Deo dan Sinta, kini menjalani hari-hari mereka di Tabang Zoo, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).

Meski telah berpindah lingkungan, berbagai kebiasaan keduanya tetap dipertahankan. Mulai dari berenang, menggaruk tubuh, hingga menggesekkan badan ke batang kayu. Bahkan, kebiasaan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyiapkan fasilitas bagi keduanya.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, M Ari Wibawanto, mengatakan kondisi Deo dan Sinta dipantau setiap hari, termasuk kesehatan dan perilaku keduanya.

Perawatan kedua gajah tersebut juga melibatkan mahout atau pawang yang telah memahami karakter masing-masing. Mahout dari Gembira Loka Zoo, tempat Deo dan Sinta sebelumnya berada, kini turut mendampingi keduanya di Tabang Zoo.

“Saat ini bisa dilihat di Instagram kami terkait dengan kondisi Deo dan Sinta. Di sana dilakukan perawatan semaksimal mungkin kepada mereka. Demikian juga dokter hewannya di Tabang Zoo, dokter hewan cukup banyak ada lima personel. Di sana pun mahout-nya adalah mahout yang sudah kenal dengan Deo dan Sinta,” ujar Ari , Minggu (27/9/2026).

Menurut Ari, proses adaptasi tidak dilakukan dengan mengubah seluruh kebiasaan Deo dan Sinta. Sebaliknya, pola keseharian mereka justru menjadi acuan dalam pengelolaan habitat di lokasi baru.

Salah satunya terkait aktivitas berenang. Waktu dan kedalaman kolam disesuaikan dengan kebiasaan yang telah dimiliki kedua gajah tersebut.

“Misalkan Deo dan Sinta biasanya berenang pada jam segini dengan kedalaman segini. Nah, ini disesuaikan dengan itu. Semuanya disesuaikan dengan spesifik dari gajah itu sendiri, baik dari badannya, morfologinya, ataupun dari sifat-sifatnya,” jelasnya.

Hal sederhana seperti tempat menggaruk tubuh pun tak luput dari perhatian.

Deo diketahui memiliki kebiasaan menggaruk dan menggesekkan tubuhnya pada batang kayu. Karena itu, batang kayu sengaja disediakan agar perilaku tersebut tetap bisa dilakukan di habitat barunya.

“Kebiasaan misalkan si Deo itu menggaruk-garuk badannya, menggesek-gesek pada batang kayu, maka kita harus menyediakan batang kayu itu. Itu sudah kita sesuaikan dengan kondisi itu,” ungkap Ari.

Penyesuaian tersebut bukan dilakukan setelah Deo dan Sinta tiba di Kaltim. BKSDA telah mempersiapkannya sebelum proses pemindahan.

Menurut Ari, pihaknya melakukan dua kali kajian yang melibatkan peneliti gajah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pihak Gembira Loka Zoo.

Kajian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari ukuran tubuh hingga karakter dan kebiasaan kedua gajah.

“Misalkan gajah si Deo dan Sinta itu tingginya berapa meter, maka kandangnya harus berapa meter itu harus disesuaikan. Kemudian kebiasaan-kebiasaan Deo dan Sinta itu juga menjadi salah satu upaya pembuatan kandang tersebut,” katanya.

Tabang Zoo akhirnya dipilih sebagai lokasi yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Ari mengatakan, sebenarnya terdapat sejumlah pihak yang berminat menampung Deo dan Sinta. Namun, menurut hasil penilaian BKSDA, tidak semua lokasi memiliki fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kedua gajah.

“Yang ingin menampung ada banyak. Tapi yang memenuhi persyaratan ini cuma Tabang Zoo. Jadi Tabang Zoo ini yang siap dan mau mengikuti aturan,” tegasnya.

Kini, keseharian Deo dan Sinta terus dipantau. Setiap detail, mulai dari kesehatan, perilaku, hingga kebiasaan mereka, menjadi bagian dari perawatan di Tabang Zoo.

Bagi BKSDA, pemindahan bukan sekadar memindahkan dua gajah dari satu tempat ke tempat lain. Lingkungan baru juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan karakter satwa yang menghuninya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }