Peternak Kaltim Diminta Tak Bergantung pada Rumput Segar, Ini Solusi yang Disiapkan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
10 Agu 2026 20:33
3 menit membaca

SAMARINDA – Mengantisipasi potensi musim kemarau panjang yang dapat mengganggu ketersediaan hijauan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kalimantan Timur mendorong peternak mulai menyiapkan pakan awetan sebagai cadangan.

Kepala DPKH Kaltim Arief Murdiyatno mengatakan, pakan seperti silase, hay, dan jerami fermentasi dapat menjadi solusi ketika pasokan hijauan segar mulai berkurang saat musim kemarau.

“Pakan awetan ini tidak hanya berguna saat kemarau, tetapi juga dapat menjadi cadangan ketika peternak sedang sakit atau bepergian. Selain itu, surplus rumput segar bisa dimanfaatkan sehingga tidak terbuang dan membusuk,” ujar Arief.

Menurutnya, kemampuan peternak mengolah sekaligus mengawetkan pakan menjadi bagian penting dalam menjaga efisiensi usaha peternakan. Hal ini mengingat biaya pakan masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi ternak, yakni mencapai sekitar 60 hingga 70 persen.

Karena itu, DPKH Kaltim tidak hanya mendorong pengawetan hijauan, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Limbah pertanian seperti sisa panen jagung dan jerami padi dapat diolah menjadi bahan pakan awetan. Selain memiliki nilai nutrisi, pemanfaatan biomassa pertanian tersebut dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan komersial.

Pelepah Sawit Jadi Alternatif Pakan

Pemanfaatan limbah perkebunan juga menjadi perhatian. Salah satunya pelepah kelapa sawit yang dapat diolah menjadi bahan pakan ternak.

Sebelum diberikan kepada ternak, pelepah sawit terlebih dahulu dicacah menggunakan mesin chopper dan shredder. Proses tersebut bertujuan menghancurkan bagian lidi sehingga bahan lebih aman dan mudah dikonsumsi ternak.

Untuk memastikan pakan alternatif yang dihasilkan tetap aman dan memenuhi kebutuhan nutrisi, DPKH Kaltim menyiapkan tenaga Pengawas Mutu Pakan.

Sebanyak 25 petugas disebar di 10 kabupaten dan kota untuk membantu memastikan kualitas pakan yang digunakan peternak sesuai standar.

Sementara untuk peternakan berskala besar, DPKH Kaltim mendorong penggunaan sistem penyimpanan bunker untuk menyimpan pakan fermentasi.

Proses fermentasi dapat dilakukan dengan bantuan probiotik seperti EM4. Metode tersebut diharapkan membantu menghasilkan pakan dengan daya simpan lebih panjang sekaligus tetap memiliki kualitas yang baik.

Dorong Kemandirian Pakan

Upaya penyediaan pakan awetan tidak hanya ditujukan sebagai solusi menghadapi musim kemarau. Pemerintah juga ingin mendorong perubahan pola pengelolaan pakan agar peternak memiliki sistem penyediaan pakan yang lebih terencana.

Dengan cadangan pakan yang cukup, peternak diharapkan dapat menjaga kondisi ternak sekaligus mengendalikan biaya produksi, terutama ketika harga pakan komersial mengalami kenaikan.

Dalam jangka panjang, Pemerintah Provinsi Kaltim juga menyiapkan langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan konsentrat yang relatif mahal.

Salah satunya melalui pembangunan pabrik pakan baru di kawasan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Pabrik tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pakan berbahan baku lokal sekaligus membuka peluang bagi peternak memperoleh pakan dengan harga yang lebih terjangkau.

Melalui berbagai langkah tersebut, DPKH Kaltim berharap peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hijauan segar. Sebaliknya, peternak didorong membangun sistem penyediaan pakan yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan.

Langkah itu sekaligus menjadi strategi menghadapi perubahan kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi ketersediaan pakan dan keberlangsungan usaha peternakan di Kaltim. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }