Wakil Ketua DPRD Berau, Subroto.
GENGSI bekerja di sektor pertambangan disebut menjadi salah satu faktor rendahnya minat tenaga kerja lokal terhadap ratusan lowongan di sektor kelapa sawit di Kabupaten Berau. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang masih berada di angka 4,40 persen pada 2025.
Wakil Ketua DPRD Berau, Subroto, mengungkapkan sedikitnya 500 lowongan kerja di perusahaan sawit belum banyak dilirik pencari kerja lokal. Ia menilai sebagian pemuda lebih memilih menunggu peluang di sektor tambang yang dianggap lebih menjanjikan secara prestise.
“Ada 500 lowongan pekerja sawit, tapi sedikit yang lirik,” ujar Subroto.
Menurut dia, persepsi terhadap pekerjaan tambang sebagai sektor unggulan membuat peluang kerja lain terabaikan. Padahal, sektor pertambangan memiliki standar rekrutmen yang ketat dan membutuhkan kualifikasi spesifik, sehingga tidak semua pencari kerja dapat terserap.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor kelapa sawit yang justru membuka peluang kerja lebih luas. Namun, karena kurang diminati tenaga kerja lokal, perusahaan sawit di Berau akhirnya banyak merekrut pekerja dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara dan Sulawesi.
Subroto menilai kecenderungan memilih pekerjaan berdasarkan gengsi berdampak langsung pada lambatnya penyerapan tenaga kerja lokal. Ia juga menyebut fenomena ini berpotensi memicu persoalan sosial, terutama ketika ekspektasi terhadap sektor tambang tidak terpenuhi.
“Kita dengar banyak problem perekrutan justru dari sektor pertambangan karena kualifikasi yang tidak sesuai. Sementara di sisi lain, lowongan sawit terbuka lebar tapi diabaikan,” katanya.
Ia menambahkan, ketergantungan pada satu sektor kerja juga berisiko terhadap stabilitas ekonomi masyarakat. Ketika peluang di sektor utama terbatas, pencari kerja yang tidak terserap berpotensi menambah angka pengangguran.
DPRD Berau pun mendorong Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk lebih aktif mengedukasi masyarakat terkait peluang kerja di sektor perkebunan. Upaya ini diharapkan dapat mengubah persepsi dan memperluas minat kerja di luar sektor tambang.
Subroto menegaskan pentingnya sikap realistis dalam memilih pekerjaan. Menurut dia, setiap peluang kerja yang tersedia seharusnya dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga dan daerah.
“Jangan pilah-pilih kalau ada lowongan. Setiap peluang harus dimanfaatkan demi kesejahteraan bersama,” ujarnya. [ADS/DPRD BERAU]
Tidak ada komentar