Selasa, 28 Apr 2026

Kemilau Montrado, Dinamika Kota Tambang Emas dari Kalimantan

Suriadi Said
26 Mar 2022 18:27
7 menit membaca

SAMARINDA, newsborneo.id – Emas pernah begitu menyilaukan di Borneo (Kalimantan) Barat pada abad ke 19, kejayaan kekuasaan bahkan konflik yang begitu besar pernah melanda kawasan ini disebabkan komoditas tersebut.

Emas memegang peranan penting bagi perubahan yang terjadi di wilayah ini tidak saja secara ekonomi namun juga secara sosial dan politik.

Montrado, sebuah tempat di pedalaman Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan saksi berkilaunya emas pada masa lalu.

Dalam catatan para pejabat kolonial, tempat ini merupakan sebuah wilayah yang paling sering disebut-sebut sebagai bekas kota tambang besar di Borneo Barat, selain kota Mandor dengan kongsi pertambangan emas lanfang-nya yang kuat.

Munculnya aktivitas tambang emas di Montrado tidak bisa lepas dari kedatangan orang China di Borneo bagian barat.

Dicatat oleh Mary Somers Heidhues dalam Penambang Emas, Petani dan Pedagang di Distrik Tionghoa Kalimantan Barat menyebut bahwa sebelum abad ke 13, hubungan dagang antara penduduk asli dengan orang Tionghoa bergantung pada pertukaran barang lokal seperti hasil hutan, emas dan intan.

“Keberadaan orang Tionghoa di Borneo bagian barat diperkuat dengan laporan pemerintah Inggris yang ada di Serawak yang menyatakan bahwa orang Tionghoa telah menetap di wilayah yang mereka sebut Dutch Borneosebelum abad ke 18,” tulisnya.

Sementara itu berkaitan dengan potensi kandungan emas di tanah Borneo barat, Panembahan Mewpawah –kerajaan Islam di Borneo Barat– merupakan perintis yang melakukan kerja sama dalam mendatangkan sejumlah orang Tionghoa untuk secara khusus mengelola deposit emas yang ada di dalam wilayah kekuasaannya.

Menurut Any Rahmayani dalam penelitian berjudul Montrado 1818-1858: Dinamika Kota Tambang Emasmenyebut kedatangan orang Tionghoa ini terjadi pada tahun 1740-1745. Karena melihat keberhasilan penguasa tetangga, maka Sultan Umar Akkamuddin dari Kesultanan Sambas pun mengikuti jejaknya.

Setelah usahanya mendatangkan orang Tionghoa tersebut mulai muncul pemukiman yaitu di Seminis dan Larah. Pemukiman ketiga ditemukan di Montrado yang ternyata tanahnya banyak mengandung emas.

Izin pembukaan tambang emas mutlak ada di tangan Sultan Sambas, hal ini terkait dengan penguasaan lahan, upeti dan ketentuan lain. Hak-hak lain yang diberikan kepada kongsi oleh Sultan Sambas kala itu, meliputi kekuasaan pemerintahan, pengadilan dan keamanan.

“Bahkan, orang-orang Tionghoa diberi bekal peralatan ataupun keperluan konsumsi dengan persyaratan bahwa orang Tionghoa harus membayarnya dalam bentuk emas,” tulis Hari Poerwanto dalam bukunya berjudul Orang Cina Khek dari Singkawang.

Kota Montrado pada pertengahan abad ke 19 masih terlihat sebagai sebuah kampung Tionghoa dilengkapi dengan tiga buah rumah kongsi.

P.J Veth dalam Encyclopedia van Nederlandsch Indie 1918menggambarkan kota ini sebagai sebuah kota kecil. Kota ini memiliki rumah utama yang besar dan tiga rumah kongsi yaitu thang, sjongbok dan habok.

Montrado merupakan sebuah kota yang terdiri dari sebuah jalan tunggal dengan 3 perempatan. Keadaan pusat pertambangan Montrado digambarkan sebagai sebuah tempat tinggal yang sangat nyaman dengan tanah yang subur dan dikelilingi bukit-bukit.

Di sini juga ada sebuah danau yang airnya digunakan untuk mencuci tanah yang mengandung emas pada proses penambangan. Sebuah balai utama, thang yang juga merupakan lambang supremasi kongsi pertambangan emas.

Thang berfungsi sebagai balai utama untuk bertransaksi, ruang penyambutan tamu serta sebagai rumah ibadah utama bagi para anggota kongsi. Tempat ini merupakan bangunan balai pertama yang didirikan di Montrado.

Bangunan ini memiliki konstruksi yang kokoh dengan kayu ulin beratap sirap dan di bentengi dengan benteng tanah. Di dalam benteng tersebut terdapat halaman, aula tengah dan altar, kamar-kamar besar untuk ketua kongsi, keluarga dan juru tulisnya serta tempat penyimpanan peralatan sembahyang dan arsip.

Sementara Sjonbok dan Habok merupakan bangunan selanjutnya yang dibangun di Montrado. Sjongbok disebut sebagai rumah tinggi sedangkan Habok disebut sebagai rumah rendah. Memang untuk sampai ke aula Sjongbokharus menaiki beberapa anak tangga. Adapun Habok terlihat lebih sederhana dari dua bangunan sebelumnya.

Di tengah dari tiga bangunan ini adalah sebuah pabrik penyulingan arak Tjoelong. Pabrik arak ini dibangun dengan kayu besi dan beratap sirap dan dilindungi oleh tanaman buah disekelilingnya.

Pabrik arak ini juga harus membayar pungutan/pajak kepada kongsi besar. Pasar sebagai pusat kota tergambar sebagai dua sisi jalan utama yang ditempati oleh pedagang/tukang-tukang.

Aktivitas peternakan dan pertanian sebagai aktivitas non tambang terlihat dari banyaknya kandang babi berada di sekitar pasar. Penduduk Montrado dan daerah sekitarnya bekerja sebagai pekebun. Mereka menanam bahan pangan kebutuhan sehari-hari seperti sayur dan buah-buahan.

Penduduk Montrado dikepalai oleh pimpinan dari kelompok asal mereka di China. Masyarakat yang terbangun di Kota Montrado cenderung lebih bebas untuk menyusun bentuk pemerintahan mereka.

Wilayah mereka terbagi dalam beberapa distrik yang diatur oleh beberapa wakil yang disebut kung se yang dipilih oleh seluruh penduduk.

Formasi kepemimpinan ini kemudian berubah setelah Belanda menguasai wilayah Montrado di pertengahan abad ke 19 bersamaan dengan melemahnya kekuasaan Thaikong. Seorang dengan pangkat Kapthai diangkat sebagai regentyang bertanggung jawab langsung kepada Asisten Residen Sambas.

Penduduk yang mendiami Montrado diperkirakan sekitar 5000-7000 jiwa. Jumlah ini diperkirakan lebih banyak dari penduduk yang bermukim di Singkawang ketika itu. Sementara itu pemeliharaan sanitasi sangat penting bagi penduduk Montrado.

Pada masa kejayaannya, setiap tambang emas mampu mengeluarkan dana untuk kepentingan publik seperti membuat dan memelihara trotoar yang luas, membuat jembatan serta pemeliharaan dan pembersihan sungai.

Biaya untuk pemeliharaan jembatan dan tempat ibadah diambil dari macam pajak yang berlaku seperti pajak dari rumah pemotongan hewan, tambang emas, rumah judi, pabrik arak dan rumah pegadaian.

Montrado sebagai pusat kegiatan kongsi juga dipertimbangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Di sini misalnya berdiri rumah controleur dan rumah asisten residen yang berupa bangunan kokoh dan luas dari kayu ulin dan memiliki perabot yang sangat praktis.

Penguasa di Montrado juga sangat memperhatikan pendidikan warga. Lembaga pendidikan berupa sekolah jumlahnya banyak. Hal ini terlihat dari adanya sekolah yang diperuntukan bagi anak laki-laki Tionghoa.

Sedangkan sarana kesehatan juga telah berkembang dengan adanya tiga puluh tabib, lima belas ahli obat dan rumah perawatan kusta yang mempunyai 150 pasien.

Namun begitu perubahan yang cukup drastis terlihat di Montrado memasuki tahun kedua abad ke 19, akibat perang Kongsi 1822-1954. Penduduk yang telah kehilangan pekerjaan akibat dihapuskannya sistem kongsi diberatkan dengan biaya pemeliharaan jalan.

Keruntuhan kongsi merupakan eskalasi dari banyaknya konflik yang terjadi. Akar permasalahannya adalah deposit emas yang makin berkurang pada masing-masing kongsi sehingga terjadi perebutan lahan yang menyebabkan perpecahan antar kongsi.

Bentuk konflik selanjutnya adalah konflik kongsi dan kelompok Dayak yang terjadi pada tahun 1842. Kondisi ini terjadi ketika para penambang China merebut tambang emas Dayak di Lara.

Bentuk konflik menjadi berkembang antara pasukan gabungan kongsi Thaikong dan gabungan Dayak di Selakau yang dikerahkan oleh pejabat kerajaan Sambas.

Periode perang selanjutnya adalah tahun 1850-1854 yang diakhiri dengan dihapuskannya organisasi kongsi emas yang ada di wilayah ini.

Akibatnya, terjadi migrasi pekerja tambang dalam skala besar ke daerah pesisir pantai dan lembah-lembah besar. Penghapusan kongsi secara nyata ditandai dengan sebuah upacara yang dilangsungkan di balai utama di Montrado.

Kondisi ini membuat mereka yang sebelumnya hanya memiliki keahlian di bidang pertambangan emas mulai berlatih bekerja di bidang pertanian.

Awalnya mereka mengusahakan pertanian dengan bersawah dan kebun holikultura namun secara bertahap mereka mulai mengusahakan budidaya kelapa yang pada awalnya diusahakan oleh orang-orang Bugis.

Gelombang kedua dari kongsi mulai berpindah ke daerah pesisir. Singkawang yang telah ada pada masa awal kedatangan Tionghoa di pertengahan abad ke 18 makin bertambah pada pertengahan abad ke 19.

Akibat pertikaian kongsi membuat daerah ini meningkat pada akhir abad 19. Kondisi ini membuat Montrado kehilangan sebagian besar penghuninya.

Kini bila kita datang ke Montrado, monumen kejayaan tidak akan pernah kita temui. Hanya bekas-bekas tambang emas baik yang dikelola oleh perusahaan ataupun pertambangan emas tanpa izin yang ada di sana berserta permasalahan lingkungan yang ditinggalkan.

Walau setelah merdeka telah dikelola oleh pihak-pihak lain, namun tidak bisa membawa kenangan pada kejayaan emas pada masa lalu.

(red)

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

articel 538000001

articel 538000002

articel 538000003

articel 538000004

articel 538000005

articel 538000006

articel 538000007

articel 538000008

articel 538000009

articel 538000010

articel 538000011

articel 538000012

articel 538000013

articel 538000014

articel 538000015

articel 538000016

articel 538000017

articel 538000018

articel 538000019

articel 538000020

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

post 138000926

post 138000927

post 138000928

post 138000929

post 138000930

post 138000931

post 138000932

post 138000933

post 138000934

post 138000935

post 138000936

post 138000937

post 138000938

post 138000939

post 138000940

post 138000941

post 138000942

post 138000943

post 138000944

post 138000945

cuaca 228000711

cuaca 228000712

cuaca 228000713

cuaca 228000714

cuaca 228000715

cuaca 228000716

cuaca 228000717

cuaca 228000718

cuaca 228000719

cuaca 228000720

cuaca 228000721

cuaca 228000722

cuaca 228000723

cuaca 228000724

cuaca 228000725

cuaca 228000726

cuaca 228000727

cuaca 228000728

cuaca 228000729

cuaca 228000730

post 238000601

post 238000602

post 238000603

post 238000604

post 238000605

post 238000606

post 238000607

post 238000608

post 238000609

post 238000610

post 238000611

post 238000612

post 238000613

post 238000614

post 238000615

post 238000616

post 238000617

post 238000618

post 238000619

post 238000620

post 238000621

post 238000622

post 238000623

post 238000624

post 238000625

post 238000626

post 238000627

post 238000628

post 238000629

post 238000630

info 328000571

info 328000572

info 328000573

info 328000574

info 328000575

info 328000576

info 328000577

info 328000578

info 328000579

info 328000580

info 328000581

info 328000582

info 328000583

info 328000584

info 328000585

info 328000586

info 328000587

info 328000588

info 328000589

info 328000590

info 328000591

info 328000592

info 328000593

info 328000594

info 328000595

info 328000596

info 328000597

info 328000598

info 328000599

info 328000600

berita 428011481

berita 428011482

berita 428011483

berita 428011484

berita 428011485

berita 428011486

berita 428011487

berita 428011488

berita 428011489

berita 428011490

berita 428011491

berita 428011492

berita 428011493

berita 428011494

berita 428011495

berita 428011496

berita 428011497

berita 428011498

berita 428011499

berita 428011500

berita 428011501

berita 428011502

berita 428011503

berita 428011504

berita 428011505

berita 428011506

berita 428011507

berita 428011508

berita 428011509

berita 428011510

kajian 638000056

kajian 638000057

kajian 638000058

kajian 638000059

kajian 638000060

kajian 638000061

kajian 638000062

kajian 638000063

kajian 638000064

kajian 638000065

kajian 638000076

kajian 638000077

kajian 638000078

kajian 638000079

kajian 638000080

kajian 638000081

kajian 638000082

kajian 638000083

kajian 638000084

kajian 638000085

article 888000021

article 888000022

article 888000023

article 888000024

article 888000025

article 888000026

article 888000027

article 888000028

article 888000029

article 888000030

cuaca 988000001

cuaca 988000002

cuaca 988000003

cuaca 988000004

cuaca 988000005

cuaca 988000006

cuaca 988000007

cuaca 988000008

cuaca 988000009

cuaca 988000010

cuaca 988000011

cuaca 988000012

cuaca 988000013

cuaca 988000014

cuaca 988000015

article 878000001

article 878000002

article 878000003

article 878000004

article 878000005

article 878000006

article 878000007

article 878000008

article 878000009

article 878000010

article 878000011

cuaca 988000029

cuaca 988000030

cuaca 988000031

cuaca 988000032

cuaca 988000033

cuaca 988000034

cuaca 988000035

cuaca 988000036

cuaca 988000037

cuaca 988000038

news-1701