Aksi demo di depan kantor Gubernur Kaltim, Selasa 21 April 2026.
RIBUAN massa menggelar unjuk rasa di Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa (21/4/2026). Aksi ini dipicu oleh sejumlah kontroversi yang dikaitkan dengan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, mulai dari isu dinasti politik hingga kebijakan anggaran.
Berikut daftar kontroversi yang menjadi sorotan publik:
1. Dugaan Dinasti Politik
Publik menyoroti posisi sejumlah anggota keluarga Rudy Mas’ud yang menduduki jabatan strategis di Kalimantan Timur. Mereka antara lain menjabat sebagai Ketua DPRD Kaltim, kepala daerah, anggota legislatif, hingga posisi dalam tim percepatan pembangunan. Kondisi ini memunculkan persepsi adanya konsentrasi kekuasaan dalam satu keluarga.
2. Pengadaan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar
Kebijakan pengadaan mobil dinas jenis Range Rover senilai Rp8,5 miliar menuai kritik karena dinilai tidak sejalan dengan upaya efisiensi anggaran. Pemerintah provinsi kemudian mengembalikan kendaraan tersebut kepada penyedia dan memasukkan kembali anggaran ke kas daerah sebagai respons atas kritik publik.
3. Anggaran Renovasi Rp25 Miliar
Rencana anggaran Rp25 miliar untuk renovasi rumah jabatan gubernur dan wakil gubernur menjadi perhatian. Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi berbagai kebutuhan fasilitas, termasuk renovasi rumah jabatan dan penataan ruang kerja, yang dialokasikan dalam beberapa tahun anggaran.
4. Isu Kebebasan Pers
Pada Juli 2025, seorang asisten pribadi gubernur diduga bersikap intimidatif terhadap jurnalis saat wawancara di Kantor Gubernur. Insiden ini memicu kecaman dari organisasi pers sebelum yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf.
Rangkaian kontroversi tersebut menjadi latar belakang meningkatnya tekanan publik yang berujung pada demonstrasi. Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai poster kritik, termasuk tuntutan penghentian praktik nepotisme.
Aksi sempat diwarnai adu dorong antara massa dan aparat kepolisian. Namun, Kepolisian Daerah Kalimantan Timur memastikan situasi tetap kondusif hingga massa membubarkan diri.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud memilih bungkam ketika dicerca pertanyaan oleh wartawan usai aksi demonstrasi mahasiswa di depan Kantor Gubernur, namun menyampaikan pernyataannya melalui video yang diunggah Rabu (22/4/2026) sekira pukul 05.30 WITA.
Ketidakhadiran Rudy di hadapan wartawan setelah aksi menjadi sorotan, mengingat demonstrasi sempat diwarnai ketegangan akibat ulah oknum tak dikenal. Alih-alih konferensi pers atau wawancara langsung, pernyataan resmi justru disampaikan melalui kanal media sosial pribadinya yang bekolaborasi dengan akun resmi Pemprov Kaltim.
Dalam video tersebut, Rudy menyebut aksi mahasiswa sebagai “berkelas” dan menilai aspirasi yang disampaikan memiliki arti penting bagi pemerintah daerah.
“Masukan hari ini sangat berarti dan sangat berkelas. Semoga ke depan kami dan seluruh Pemprov Kalimantan Timur berakselerasi untuk memperbaiki kinerja,” ujar Rudy.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah membutuhkan peran mahasiswa dan masyarakat sebagai “mata dan telinga” untuk mengawasi jalannya pemerintahan serta mendorong evaluasi kinerja secara menyeluruh.
Selain itu, Rudy menyampaikan apresiasi kepada aparat TNI dan Polri yang dinilai berhasil menjaga situasi tetap kondusif hingga massa membubarkan diri dengan tertib.
Namun, pilihan komunikasi melalui video dan tidak adanya interaksi langsung dengan wartawan memunculkan respons beragam di ruang publik. Sejumlah warganet mempertanyakan sikap tersebut, terutama di tengah situasi pascaaksi yang dinilai masih memerlukan penjelasan terbuka. [RED]
Tidak ada komentar