Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah. (dok: Newsborneo)BONTANG – Di balik pesona wisata pesisir yang menjadi ikon Kota Bontang, masih tersimpan sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Hal itu diungkapkan Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, saat menyampaikan aspirasi masyarakat dalam Rapat Dengar Pendapat Gabungan Komisi A, B dan C DPRD Kota Bontang pada, Selasa (2/6/2026).
Di hadapan anggota dewan dan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Ardiansyah menyuarakan tiga persoalan utama yang selama ini menjadi keluhan warga, yakni keberadaan panggung lawas yang terbengkalai, persoalan sampah yang sempat viral di media sosial, serta minimnya pemberdayaan sanggar seni dan budaya lokal.
Menurut Ardiansyah, revitalisasi kawasan Bontang Kuala yang telah dilakukan pemerintah perlu diikuti dengan penataan fasilitas-fasilitas lama yang kini justru mengurangi keindahan kawasan wisata tersebut.
Ia menyoroti sejumlah panggung lama yang masih berdiri di kawasan Bontang Kuala. Bangunan yang dulunya memiliki fungsi bagi aktivitas masyarakat itu kini dinilai sudah tidak layak dan mengganggu pemandangan.
“Sudah banyak tokoh adat yang menyampaikan kepada kami terkait kondisi panggung lama tersebut. Kalau memang memungkinkan, kami berharap ada solusi penataan karena kondisinya sudah tidak elok dipandang,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ardiansyah juga menyinggung persoalan sampah yang beberapa waktu lalu membuat nama Bontang Kuala menjadi sorotan publik. Ia menilai sampah yang menumpuk di kawasan perairan tidak sepenuhnya berasal dari wilayah Bontang Kuala, melainkan terbawa arus dari wilayah hulu.
Namun demikian, ia menduga terdapat faktor lain yang memperparah kondisi tersebut, yakni konstruksi penyangga Jembatan Surya yang dinilai menyebabkan aliran sungai menjadi kurang lancar sehingga sampah mudah tersangkut dan menumpuk.
“Ketika sampah datang dari arah hulu, alirannya terhambat di sekitar jembatan sehingga akhirnya menumpuk dan terlihat seolah-olah berasal dari Bontang Kuala,” katanya.
Karena itu, ia berharap DPRD dan Pemerintah Kota Bontang dapat mempertimbangkan penataan atau renovasi konstruksi jembatan tersebut sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi persoalan sampah di kawasan wisata pesisir.
Selain infrastruktur dan lingkungan, Ardiansyah juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap pelaku seni dan budaya lokal. Menurutnya, banyak sanggar tari di Bontang Kuala yang memiliki potensi besar, namun belum mendapatkan ruang yang cukup dalam berbagai kegiatan pemerintah.
Padahal, keberadaan sanggar seni dinilai sangat penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat pesisir sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah.
“Kami berharap sanggar tari dan pelaku seni di Bontang Kuala dapat lebih sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan pemerintah. Ini bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga upaya menjaga budaya yang sudah diwariskan turun-temurun,” tegasnya.
Melalui penyampaian aspirasi tersebut, Ardiansyah berharap pembangunan Bontang Kuala tidak hanya berfokus pada fisik kawasan, tetapi juga menyentuh aspek lingkungan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Sebab, menurutnya, menjaga Bontang Kuala berarti menjaga salah satu wajah dan identitas Kota Bontang yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat.(irw)
Tidak ada komentar