Warga binaan Lapas Bontang mengikuti sekolah paket A, B, dan C. [Dok Lapas Bontang]
RUANG belajar di Lapas Kelas IIA Bontang tampak sederhana. Meja dan kursi tertata seadanya. Namun, semangat para warga binaan justru terasa penuh.
Program pendidikan Lapas Bontang menghadirkan sekolah paket A, B, dan C bagi mereka yang sempat putus sekolah. Ini bukan sekadar kelas. Ini ruang harapan.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, lembar-lembar buku dibuka. Pena bergerak. Pelajaran dimulai seperti sekolah pada umumnya.
Program ini dijalankan bekerja sama dengan PKBM Melati Bontang. Warga binaan mengikuti pembelajaran secara rutin dengan materi sesuai kurikulum nasional.
Ini faktanya, banyak dari mereka yang sebelumnya tidak sempat menyelesaikan pendidikan.
Kini, kesempatan itu datang kembali.
Suasana belajar mungkin tidak mewah. Namun antusiasme tak bisa disembunyikan. Setiap materi diserap dengan kesungguhan.
Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Suranto, melihat perubahan itu.
“Kami ingin memastikan setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, termasuk melalui pendidikan,” ujarnya.
Bagi sebagian warga binaan, kelas ini bukan hanya soal ijazah. Ini tentang membangun kembali kepercayaan diri.
Sementara itu, program ini menjadi bagian dari pembinaan yang lebih luas. Pendidikan dianggap sebagai pintu untuk membuka masa depan baru.
Ternyata, tidak sedikit warga binaan yang menunjukkan semangat tinggi untuk berubah.
Mereka datang ke kelas dengan tujuan yang jelas: memperbaiki hidup.
“Tidak sedikit dari mereka yang memiliki keinginan kuat untuk berubah dan memperbaiki masa depan,” kata Suranto.
Selain pendidikan, aspek lain seperti kemandirian dan karakter juga ikut dibentuk.
Di Lapas Bontang, pendidikan bukan sekadar kegiatan formal. Ia menjadi jembatan menuju kehidupan baru.
Suatu hari nanti, ketika pintu itu terbuka, mereka tidak lagi kembali dengan tangan kosong. Mereka membawa bekal—pengetahuan, harapan, dan kesempatan kedua. [RED]
Tidak ada komentar