Pemkot Bontang Minta Peserta Pelatihan Tak Berhenti di Sertifikat, Karya Jadi Ukuran

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
15 Sep 2026 20:48
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Pemkot Bontang meminta peserta pelatihan Project Based Learning (PBL) tidak sekadar mengejar sertifikat, tetapi mampu menghasilkan karya yang bisa diterapkan.

Pesan itu disampaikan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat membuka Pelatihan PBL 2026 di Auditorium 3 Dimensi, Selasa (15/9/2026).

Pelatihan tersebut merupakan kolaborasi Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda dengan LPK Aptekkom Bontang dan LPK Suvi Training Bontang.

Terdapat tiga program yang diberikan, masing-masing berdurasi 200 jam pelajaran (JP). Yakni Digital Office Administration bersama LPK Aptekkom, Pembuatan Konten Visual bersama LPK Aptekkom, serta Digital Office Administration bersama LPK Suvi Training Bontang.

Neni menilai pola pelatihan berbasis proyek penting karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi dituntut menguasai keterampilan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan secara nyata.

Menurutnya, kemampuan teknis perlu dibarengi dengan kreativitas, komunikasi, kerja sama, kedisiplinan, dan kemampuan memecahkan masalah.

“Jangan berhenti pada sertifikat. Setelah pelatihan, yang lebih penting adalah apa yang bisa kalian hasilkan dan kontribusikan,” ujar Neni.

Ia juga mengingatkan peserta bahwa persaingan memasuki dunia kerja semakin ketat. Karena itu, keterampilan yang diperoleh selama pelatihan perlu dikembangkan menjadi modal untuk bekerja maupun membuka peluang usaha.

Pemkot Bontang mendorong agar pelatihan vokasi tidak berhenti pada peningkatan kemampuan individu. Peserta diharapkan dapat berkembang menjadi tenaga kerja yang mandiri, pelaku usaha, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan.

Tiga program yang diberikan juga diarahkan pada keterampilan yang dekat dengan kebutuhan kerja saat ini, khususnya administrasi perkantoran digital dan produksi konten visual.

Neni berharap peserta mengikuti seluruh proses pelatihan dengan serius dan menjadikan setiap materi sebagai bekal untuk menghasilkan sesuatu setelah program berakhir.

“Manfaatkan kesempatan ini untuk benar-benar meningkatkan kemampuan. Jadikan ilmu yang diperoleh sebagai sesuatu yang bisa digunakan dan memberi nilai bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }