Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus pengembang Gamagora 7, Prof. Taryono, menjelaskan bahwa varietas ini dirancang untuk menjawab tantangan pertanian di lahan dengan ketergantungan tinggi pada curah hujan.PENAJAM PASER UTARA — Di tengah tekanan perubahan iklim dan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, inovasi varietas padi adaptif terus menjadi perhatian. Salah satu yang kini diuji adalah Gamagora 7, varietas padi karya Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diklaim mampu tumbuh baik di lahan sawah maupun lahan tadah hujan.
Uji coba pengembangan padi tersebut dilakukan melalui kolaborasi UGM, Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur, serta Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menjembatani hasil riset kampus dengan kebutuhan petani di lapangan.
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus pengembang Gamagora 7, Prof. Taryono, menjelaskan bahwa varietas ini dirancang untuk menjawab tantangan pertanian di lahan dengan ketergantungan tinggi pada curah hujan. Tidak hanya unggul dari sisi adaptasi, Gamagora 7 juga memiliki keunggulan produktivitas, ketahanan hama, serta kandungan gizi yang lebih baik.
“Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi,” ujarnya, Sabtu (30/5).
Menurutnya, Gamagora 7 awalnya dikembangkan sebagai padi genjah berproduktivitas tinggi. Namun dalam perjalanan riset yang panjang, varietas ini menunjukkan sejumlah keunggulan tambahan yang membuatnya semakin potensial untuk dikembangkan lebih luas.
Proses pengembangan Gamagora 7 sendiri memakan waktu hampir dua dekade. Dimulai sejak 2008, varietas ini baru resmi dilepas pada 2023 setelah melalui serangkaian uji multilokasi di delapan wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, hingga Nusa Tenggara Barat.
“Merakit varietas itu perlu dana besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama,” kata Taryono.
Dari sisi produktivitas, Gamagora 7 mampu menghasilkan hingga 9,7 ton gabah kering giling per hektar. Meski secara administrasi dilepas sebagai padi sawah, varietas ini juga dikembangkan sebagai alternatif padi tadah hujan karena sifat adaptifnya yang tinggi.
Dari puluhan galur yang diteliti, Gamagora 7 menjadi salah satu yang berhasil memperoleh izin komersialisasi. Hal ini menandakan potensi besar varietas tersebut untuk dikembangkan lebih luas dalam mendukung kemandirian pangan nasional.
“Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya,” jelasnya.
Tantangan terbesar saat ini, lanjut Taryono, terletak pada keterbatasan benih dan dukungan pendanaan untuk pengembangan lanjutan. Padahal, Indonesia memiliki lahan tadah hujan yang sangat luas dan potensial untuk mendukung produksi pangan berbasis inovasi seperti Gamagora 7.
“Saya optimistis bahwa sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional,” tuturnya.
Ia juga berharap UGM memberikan dukungan lebih besar terhadap riset-riset unggulan yang telah terbukti berdampak di masyarakat, termasuk pengembangan generasi lanjutan dari Gamagora 7. Menurutnya, keberlanjutan penelitian pemuliaan tanaman sangat bergantung pada fasilitas, lahan uji, dan pendanaan yang konsisten.
Sementara itu, Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Faudzul Idhi, mengatakan bahwa uji coba Gamagora 7 di Penajam Paser Utara merupakan bentuk konkret peran alumni dalam menghubungkan inovasi kampus dengan kebutuhan riil petani.
“KAGAMA sebetulnya adalah industri dari UGM yang menguji produk-produk UGM sebelum dilakukan hilirisasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kalimantan Timur dipilih sebagai lokasi uji karena memiliki tantangan pertanian yang cukup kompleks, mulai dari ketidakpastian iklim hingga kondisi tanah yang kurang subur. Kondisi ini dianggap ideal untuk menguji daya adaptasi Gamagora 7.
“Kondisi iklim seperti itu yang membuat kami tertantang untuk mencoba apakah Gamagora 7 ini bisa ditanam,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, KAGAMA Kaltim turut mendampingi petani melalui edukasi dan uji coba langsung di lahan pertanian. Penanaman dilakukan pada dua tipe lahan berbeda, yakni lahan basah dan lahan tadah hujan, untuk menguji klaim Gamagora 7 sebagai padi “amfibi”.
Program Sekolah Inovasi Desa di Penajam Paser Utara yang bekerja sama dengan UGM juga turut mendukung pelaksanaan uji coba ini. Lahan seluas satu hektar dibagi menjadi dua bagian untuk melihat perbedaan pertumbuhan di masing-masing kondisi.
“Dari satu hektar itu kita bagi dua. Sekarang sudah mulai tumbuh,” jelas Idhi.
Hasil uji coba ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi penting bagi UGM untuk penyempurnaan varietas sebelum diperluas ke wilayah lain di Kalimantan Timur, seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur. Jika berhasil, model kolaborasi ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Harapan kami tentu ini bisa berhasil, sehingga nanti dapat diperluas ke daerah-daerah lain di Kalimantan Timur,” pungkasnya. (*)
Tidak ada komentar