Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan apresiasi kepada PERDOSNI, Dinas Kesehatan, tenaga medis, serta para kader kesehatan yang turut membantu pemerintah menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat.BONTANG – Kasus stroke di Kota Bontang masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Berdasarkan data pelayanan RSUD Taman Sehat, tercatat 1.205 kasus stroke sepanjang 2025. Sementara hingga Oktober 2026, jumlah kasus yang tercatat mencapai 1.012.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) Kota Bontang menggelar Edukasi Peduli Stroke di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Sabtu (31/10/2026) pagi.
Mengusung tema “Setiap Menit Berarti: Kenali Gejala Stroke, Bertindak Cepat, Selamatkan Nyawa” dan kampanye “Saatnya Sekarang #StrokeActionNow”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya stroke, faktor risiko, pencegahan, serta pentingnya penanganan medis secepat mungkin.
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bontang, Yusuf Lensa Hamdan, mengatakan edukasi tersebut merupakan bagian dari penguatan upaya promotif dan preventif pemerintah dalam menekan risiko penyakit stroke.
Materi yang diberikan mencakup konsep Every Minute Counts, pengenalan gejala melalui slogan “SeGeRa ke RS”, serta metode FAST sebagai panduan sederhana untuk mengenali tanda awal serangan stroke.
Melalui edukasi ini, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi perubahan kondisi seseorang yang mengarah pada serangan stroke, memahami faktor risikonya, dan mengetahui langkah pertolongan yang harus segera dilakukan.
Keluarga dan kader kesehatan juga menjadi sasaran penting dalam penyebaran informasi. Mereka diharapkan dapat membantu mengenali gejala sejak dini dan meneruskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ini dihadiri Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, serta Ketua Komite I DPD RI sekaligus dokter senior PERDOSNI, Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.N. Hadir pula Yusuf Lensa Hamdan, sejumlah dokter spesialis neurologi, perwakilan TP Posyandu, dan kader kesehatan se-Kota Bontang.
Dalam sesi Opening Speech Work Group Day, Andi Sofyan Hasdam menyampaikan materi bertajuk “Pembuluh Darah Cardio Cerebral”. Ia juga memaparkan perkembangan pelayanan neurologi di Kalimantan Timur, dengan jumlah dokter spesialis saraf yang disebut mencapai sekitar 50 orang.
Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan apresiasi kepada PERDOSNI, Dinas Kesehatan, tenaga medis, serta para kader kesehatan yang turut membantu pemerintah menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat.
Menurut Neni, stroke merupakan persoalan kesehatan serius karena dapat menyebabkan kematian maupun kecacatan apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
“Setiap menit sangat berarti dalam penanganan stroke. Karena itu, masyarakat harus mengenali gejalanya dan segera membawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda serangan stroke. Jangan menunda pertolongan karena kecepatan penanganan sangat menentukan keselamatan dan kondisi pasien,” pesannya.
Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, Pemkot Bontang juga menaruh perhatian pada kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Neni menyebut kebutuhan layanan terus meningkat, sementara tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) RSUD Taman Husada dilaporkan mencapai sekitar 80 hingga 100 persen di beberapa ruangan.
Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, pemerintah berencana mendorong pembangunan Gedung C RSUD Taman Husada. Pengembangan ini diharapkan dapat menambah kapasitas dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Neni juga meminta Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan manajemen RSUD Taman Husada, termasuk dalam meningkatkan kemampuan tenaga medis dan kapasitas fasilitas kesehatan.
Di sisi pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, mencukupi waktu istirahat, mengelola stres, serta mengendalikan tekanan darah melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota turut menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Bontang telah ditekan hingga 14,9 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut kembali turun hingga di bawah 10 persen melalui kolaborasi berbagai pihak.
Pemkot Bontang berharap edukasi stroke dan kerja sama lintas sektor dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, mempercepat pengenalan gejala, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di daerah. (*)
Tidak ada komentar