Dispar Kutim Petakan Wisata Alam-Budaya, Karst hingga Pulau Miang Jadi Andalan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
15 Sep 2026 14:38
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Dinas Pariwisata Kutai Timur menyiapkan strategi pengembangan wisata yang menggabungkan kekuatan alam dan budaya. Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Pulau Miang, Pantai Sekerat, hingga Taman Nasional Kutai masuk dalam peta potensi utama.

Kepala Dispar Kutim, Mahriadi, mengatakan daerah memiliki kombinasi destinasi pesisir, kawasan karst, konservasi, serta tradisi masyarakat yang masih terjaga. Modal tersebut dinilai cukup kuat untuk membangun produk wisata yang berbeda dari daerah lain.

“Kekayaan alam dan budaya,” kata Mahriadi.

Sektor bahari dan ekowisata menjadi salah satu fokus karena Kutim memiliki garis pantai panjang dan kawasan alam dengan karakter khas. Di sisi lain, tradisi seperti Lom Plai dan Mecaq Undat memberi identitas budaya yang dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.

“Potensi pasar yang sangat besar,” ujarnya.

Dispar tidak ingin pengembangan berhenti pada promosi. Objek wisata akan dipetakan berdasarkan kesiapan, akses, fasilitas, pengelola, serta dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat sekitar.

Pendampingan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga menjadi bagian penting. Masyarakat didorong tidak hanya menjadi penonton, tetapi mengelola layanan, kuliner, suvenir, homestay, dan aktivitas wisata yang menghasilkan pendapatan langsung.

“Masyarakat lokal menjadi aktor utama,” jelas Mahriadi.

Pengembangan budaya diarahkan agar tradisi tetap dijaga maknanya. Pemerintah perlu memastikan agenda wisata tidak mengubah ritual menjadi sekadar tontonan, tetapi tetap menghormati komunitas pemilik tradisi dan memberi manfaat ekonomi yang wajar.

Integrasi alam, budaya, dan ekonomi lokal diharapkan memperpanjang lama tinggal wisatawan. Semakin banyak aktivitas yang dapat dilakukan, semakin besar belanja wisata yang berputar di desa dan kecamatan.

Pemetaan juga diperlukan agar promosi tidak dilakukan seragam pada seluruh destinasi. Wisata bahari membutuhkan dukungan keselamatan dan transportasi, kawasan karst perlu aturan konservasi, sedangkan wisata budaya memerlukan keterlibatan komunitas pemilik tradisi sejak tahap perencanaan.

Dispar menilai keberhasilan destinasi tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung. Perputaran ekonomi warga, kualitas lingkungan, lama tinggal wisatawan, serta keberlanjutan pengelolaan menjadi indikator yang harus tumbuh bersama agar pariwisata tidak menimbulkan beban baru bagi desa.

“Memperkuat posisi Kutim,” tegasnya. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }