Salah satu penanganan BPBD terkait Karhutla di Jalan Bayangkara Gunung Elai beberapa waktu lalu. (BPBD Bontang )NEWSBORNEO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang mencatat delapan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Kejadian tersebut tersebar di sejumlah kawasan, mulai dari wilayah Bontang hingga area sekitar yang masuk dalam penanganan tim.
Kepala Pelaksana BPBD Bontang, Usman melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Ismail mengatakan, seluruh kejadian yang masuk dalam laporan ditindaklanjuti petugas sesuai kondisi di lapangan.
“Selama enam bulan pertama, kami menangani delapan kejadian karhutla. Setiap laporan tetap kami tindak lanjuti agar kebakaran tidak berkembang lebih luas,” kata Ismail.
Catatan kejadian menunjukkan karhutla pertama pada periode tersebut terjadi di kawasan Bukit Kusnodo, Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan pada Januari.
Pada bulan yang sama, kebakaran lahan kembali terjadi di Jalan Mente RT 24, Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan. Dalam kejadian itu, luasan lahan yang terbakar tercatat sekitar 0,18 hektare.
Memasuki April, penanganan karhutla terjadi di sejumlah lokasi. Di antaranya Jalan Ir Soekarno-Hatta, Kelurahan Kanaan, kemudian Bukit Kusnodo, Desa Suka Rahmat yang kembali masuk dalam catatan kejadian.
Karhutla juga terjadi di Jalan Gotong Royong, kawasan belakang RSUD, Kelurahan Belimbing. Selanjutnya, kebakaran lahan kembali tercatat di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Bontang Lestari pada 22 dan 23 April.
Sementara itu, satu kejadian lainnya tercatat pada Juni di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara.
Ismail menuturkan, catatan kejadian tersebut menjadi bagian dari evaluasi penanganan kebencanaan BPBD. Sebab, karhutla tidak hanya terjadi di satu kawasan, melainkan tersebar di beberapa titik.
“Dari data yang ada, kejadian karhutla tersebar di beberapa lokasi. Karena itu kewaspadaan tetap perlu dijaga, terutama ketika menemukan adanya potensi kebakaran lahan,” ujarnya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk ikut mencegah terjadinya kebakaran lahan. Aktivitas yang dapat memicu api di kawasan terbuka perlu dihindari, terlebih ketika kondisi lahan mudah terbakar.
Masyarakat yang menemukan titik api juga diharapkan segera menyampaikan laporan kepada petugas. Informasi lebih awal dapat membantu proses penanganan di lapangan.
Menurut Ismail, upaya pencegahan tidak kalah penting dibanding penanganan ketika api sudah muncul. Peran masyarakat diperlukan untuk menekan potensi kejadian karhutla kembali terjadi.
“Penanganan bukan hanya ketika api sudah muncul. Kewaspadaan masyarakat juga menjadi bagian penting untuk mencegah karhutla,” pungkasnya. (ADV)
Tidak ada komentar