Dispar Kutim Perkuat Pokdarwis, Promosi Digital Jadi Mesin Wisata Desa

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
16 Sep 2026 14:53
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Dinas Pariwisata Kutai Timur memperkuat Pokdarwis dan promosi digital sebagai dua penggerak utama pariwisata desa. Strategi ini diarahkan agar kenaikan kunjungan menghasilkan pendapatan bagi warga, bukan hanya angka wisatawan.

Kepala Dispar Kutim, Mahriadi, mengatakan pendataan destinasi diprioritaskan pada objek yang memiliki dampak ekonomi langsung. Setelah itu, pemerintah melakukan pendampingan kepada kelompok pengelola agar layanan wisata dapat berjalan lebih mandiri.

“Pendampingan intensif kepada Pokdarwis,” kata Mahriadi.

Penguatan kelembagaan warga dibarengi integrasi produk ekonomi kreatif. Kerajinan, kriya, kuliner, dan produk UMKM didorong hadir dalam festival maupun pusat kunjungan sehingga belanja wisata tidak keluar dari kawasan.

“Ekonomi kreatif berbasis inovasi masyarakat,” ujarnya.

Promosi juga bergeser dari pola konvensional menuju media sosial, portal resmi, dan kolaborasi dengan kreator konten. Kanal digital dinilai lebih cepat memperkenalkan destinasi yang selama ini belum banyak diketahui calon wisatawan.

Dispar tetap harus menjaga kesesuaian antara promosi dan kesiapan lapangan. Destinasi yang viral tetapi belum memiliki akses, sanitasi, keselamatan, dan pengelolaan sampah yang baik berisiko menciptakan pengalaman buruk bagi pengunjung.

“Pemasaran digital adalah kunci,” jelas Mahriadi.

Pokdarwis diharapkan menjadi penghubung antara kebutuhan wisatawan dan kepentingan masyarakat lokal. Kelompok ini dapat mengatur pelayanan, menjaga kebersihan, menyusun paket wisata, serta memastikan manfaat ekonomi tersebar kepada pelaku usaha di desa.

Tujuan akhirnya ialah membangun ekosistem yang dapat berjalan tanpa selalu menunggu kegiatan pemerintah. Ketika masyarakat mampu mengelola destinasi, memasarkan produk, dan menjaga kualitas layanan, pariwisata memiliki peluang bertahan lebih lama.

Pendampingan kepada Pokdarwis mencakup pengelolaan organisasi, pelayanan pengunjung, penyusunan paket, hingga cara membaca peluang usaha di sekitar destinasi. Kelompok yang aktif diharapkan mampu menghubungkan pemilik homestay, pelaku kuliner, pemandu, dan produsen suvenir dalam satu ekosistem lokal.

Konten digital juga perlu dibuat konsisten dan akurat. Informasi harga, akses, waktu kunjungan, kondisi jalan, serta fasilitas harus diperbarui agar wisatawan tidak hanya tertarik oleh foto, tetapi memperoleh gambaran yang sesuai ketika tiba di lokasi.

“Masyarakat lokal tampil sebagai pelaku utama,” tegasnya. (adv)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }