1.600 Hektare Hutan di Wilayah IKN Terbakar, Basuki Ajak Warga Jadikan Menanam Pohon sebagai Gaya Hidup

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
31 Okt 2026 20:09
4 menit membaca

KUTAI KARTANEGARA – Kebakaran hutan yang melanda wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) sepanjang Juli hingga Oktober 2026 menyebabkan sekitar 1.600 hektare lahan terdampak. Dari luasan tersebut, sekitar 900 hingga 1.000 hektare berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.

Di tengah upaya pemulihan kawasan, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimuljono, mengajak masyarakat menjadikan kegiatan menanam pohon sebagai kebiasaan, bukan sekadar agenda seremonial.

Ajakan itu disampaikan Basuki saat memimpin penanaman 1.000 bibit pohon di kawasan Tahura Bukit Soeharto, Kilometer 47, Bukit Merdeka, Jalan Poros Samarinda-Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan OIKN, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Kejaksaan RI, TNI, Polri, BIN, pemerintah daerah, komunitas Borneo Kind, serta Satuan Reaksi Cepat Multi Pihak Pengendali Kebakaran Hutan dan Lahan.

Di hadapan para peserta, Basuki menegaskan bahwa gerakan penghijauan harus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, menanam pohon perlu menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama di Kalimantan Timur yang memiliki kawasan hutan luas.

“Kami di Otorita menanam pohon sudah menjadi lifestyle, bukan seremonial. Kami dua minggu sekali menanam pohon di kawasan Otorita, karena pilar kita adalah forest city,” kata Basuki.

Ia bahkan membuka peluang untuk menjadikan kegiatan penanaman pohon sebagai agenda rutin bersama komunitas dan masyarakat. Sebab, luasnya kawasan yang harus dipulihkan tidak mungkin ditangani pemerintah sendirian.

“Power dari masyarakat seperti ini sangat-sangat diharapkan. Kami sendiri tidak akan sanggup. Kehutanan sendiri juga tidak akan efektif. Makanya kerja sama ini harus terus dilakukan,” ujarnya.

Basuki juga mengutip penggalan puisi karya penyair W.S. Rendra untuk mengingatkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam.

“Alam adalah ibu. Bila engkau menyakitinya, engkau akan kehilangan pelukan terhangat dalam hidup,” ucap Basuki saat membacakan puisi tersebut.

Ia kemudian menegaskan bahwa perlindungan hutan harus menjadi komitmen bersama seluruh elemen masyarakat.

“Save our forest is a must,” tegasnya.

Basuki menjelaskan, OIKN sebenarnya telah memiliki agenda penanaman pohon secara berkala. Program tersebut sempat dihentikan sementara akibat kondisi El Nino, tetapi akan kembali dilanjutkan seiring datangnya musim hujan.

Ia berharap kebiasaan menanam pohon dapat berkembang menjadi gerakan masyarakat yang lebih luas.

“Saya ingin Kalimantan Timur mulai menanam pohon sebagai lifestyle,” katanya.

1.600 Hektare Terdampak Kebakaran

Sementara itu, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN, Myrna Asnawati Safitri, mengungkapkan hasil pemetaan kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah IKN selama Juli hingga Oktober 2026.

Berdasarkan hasil delineasi, luas kawasan yang terbakar mencapai sekitar 1.600 hektare. Sebagian besar berada di Tahura Bukit Soeharto, yakni sekitar 900 hingga 1.000 hektare. Adapun sekitar 500 hektare lainnya tersebar di area konsesi dan kawasan sekitar permukiman masyarakat.

Myrna menyebut hasil pemetaan dan temuan lapangan menunjukkan indikasi kuat bahwa sebagian kebakaran berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran.

“Evidensnya sendiri dibakar. Sangat kuat dugaan dibakar. Polanya itu, kalau kebakaran sebenarnya rendah,” ungkap Myrna.

Ia menjelaskan, pola yang ditemukan di sejumlah lokasi memperlihatkan adanya aktivitas penebangan dan pembukaan lahan sebelum vegetasi dibakar.

“Kalau pembukaan lahan itu dilakukan dengan cara membakar. Ada juga yang mengambil pohon kayunya. Polanya seperti yang di sini, dibuka dulu, ditebang, baru kemudian dibakar,” jelasnya.

Di beberapa lokasi yang telah dibuka, OIKN juga menemukan bibit tanaman seperti sawit dan pisang. Meski demikian, orang yang diduga melakukan pembakaran tidak selalu ditemukan di lokasi kejadian.

Terkait penanganan kawasan terdampak, OIKN telah melakukan sejumlah langkah pengawasan dan koordinasi dengan instansi terkait. Untuk wilayah yang berada di luar kewenangan OIKN, penanganannya dilakukan bersama kementerian terkait.

Myrna menyebut satu perusahaan perkebunan yang seluruh wilayah operasionalnya berada di kawasan IKN telah dikenai sanksi administratif.

Sementara itu, perusahaan lain yang wilayahnya melintasi kawasan IKN dan Kalimantan Timur telah dilaporkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk ditindaklanjuti.

“KLH dan Otorita IKN sudah turun ke lapangan melakukan pengawasan bersama. Sekarang prosesnya ada di Kementerian KLH,” kata Myrna.

Delapan Jenis Pohon untuk Pemulihan Hutan

Dalam aksi penghijauan tersebut, sebanyak 1.000 bibit pohon dari berbagai jenis ditanam untuk mendukung pemulihan ekosistem Tahura Bukit Soeharto.

Jenis tanaman yang dipilih antara lain balangeran, bangkirai, tengkawang, kapur, gaharu, nyamplung, meranti, dan durian.

Penanaman ini tidak sekadar bertujuan menambah tutupan vegetasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan yang terdampak kebakaran.

Basuki menilai pemulihan hutan membutuhkan proses panjang dan keterlibatan banyak pihak. Bibit yang telah ditanam harus dirawat, dipantau pertumbuhannya, serta dilindungi dari ancaman kebakaran berulang.

“Save our forest sekali lagi is a must. Kita teruskan,” ujarnya.

Melalui gerakan tersebut, OIKN berharap kolaborasi pemerintah, aparat, komunitas, dan masyarakat tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Lebih dari itu, diperlukan komitmen bersama untuk memastikan pohon-pohon yang ditanam tumbuh dan mampu mendukung pemulihan hutan di Tahura Bukit Soeharto. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }