Ajudan Gubernur Kaltim Diduga Intimidasi Mahasiswa, Polda Kaltim Turun Tangan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
20 Okt 2026 19:46
3 menit membaca

BALIKPAPAN — Dugaan intimidasi terhadap mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda yang diduga melibatkan anggota Brimob Polda Kalimantan Timur (Kaltim) berinisial ART mendapat perhatian jajaran Polda Kaltim.

ART diketahui bertugas sebagai ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Polda Kaltim kini berkoordinasi dengan kesatuan asal ART dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk menindaklanjuti dugaan tindakan tersebut.

Dugaan itu terjadi setelah aksi demonstrasi mahasiswa terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lingkungan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (19/10/2026).

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi mengatakan, pemeriksaan terhadap ART akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Kami sedang berkoordinasi dengan kesatuannya dan Bidang Propam. Setelah itu, persoalan ini akan kami tindak lanjuti,” ujar Tedy di Mapolda Kaltim, Selasa (20/10/2026) pagi.

Menurut Tedy, setiap anggota Polri wajib menjaga sikap saat menjalankan tugas dan tidak menggunakan kewenangan secara berlebihan.

Ia menegaskan, anggota kepolisian harus menjalankan tugas sesuai arahan pimpinan Polri yang menekankan pentingnya kehadiran polisi bersama masyarakat.

“Polisi tidak boleh arogan, tidak boleh berbohong, dan harus menjunjung tinggi keadilan,” kata Tedy.

Terkait kemungkinan sanksi terhadap ART, Tedy mengatakan keputusan belum dapat ditentukan sebelum proses pemeriksaan oleh kesatuan asal anggota tersebut selesai.

Salah satu opsi yang mungkin dilakukan, kata dia, ialah menarik ART kembali ke satuan asalnya.

“Kita tunggu pemeriksaan dari kesatuannya. Bisa saja yang bersangkutan ditarik kembali. Yang jelas, tindakan itu bertentangan dengan arahan Bapak Kapolri,” ujarnya.

Polda Kaltim memastikan penanganan terhadap ART masih berada dalam proses internal. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah terhadap anggota tersebut.

Dugaan intimidasi terjadi di sekitar Masjid Nurul Mu’minin, lingkungan Kantor Gubernur Kaltim, setelah mahasiswa GMNI Samarinda menggelar demonstrasi terkait penanganan karhutla.

Aksi berakhir sekitar pukul 18.00 Wita. Setelah itu, para mahasiswa kembali ke titik kumpul dan menunggu waktu salat Magrib sebelum meninggalkan lokasi.

Kader GMNI Samarinda Rossa Tri Rahmawati mengatakan situasi berubah ketika Rudy Mas’ud tiba di masjid bersama dua ajudannya.

Rossa mengaku sedang merekam kedatangan gubernur menggunakan telepon genggam. Ia menyebut tidak ada mahasiswa yang berupaya menghalangi Rudy menuju masjid.

Menurut Rossa, dirinya sempat menanyakan alasan gubernur tidak menemui massa ketika demonstrasi berlangsung. Pertanyaan itu, kata dia, disampaikan secara spontan.

“Saya hanya spontan bertanya kenapa tadi tidak menemui massa aksi. Malah beliau yang menghampiri kami untuk menjawab,” kata Rossa.

Rossa kemudian mengaku telepon genggam yang digunakannya untuk merekam mendapat perlakuan dari salah seorang ajudan setelah Rudy melewatinya.

Ia membantah menggunakan telepon genggam secara agresif terhadap gubernur.

“Padahal saya tidak menyentuh apa pun, bahkan tidak menodong-nodongkan HP ke Rudy Mas’ud,” ujarnya.

Kader GMNI lainnya, Ridwan, juga mengaku mengalami kontak fisik dengan salah seorang ajudan gubernur.

Menurut Ridwan, ajudan tersebut menghampirinya dari jarak tertentu sebelum terjadi kontak fisik.

“Dia menghampiri saya, tiba-tiba langsung mem-body,” kata Ridwan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud maupun pihak ajudan ART terkait dugaan tindakan tersebut.

Polda Kaltim menyatakan proses pemeriksaan internal akan dilakukan terlebih dahulu sebelum menentukan langkah lebih lanjut terhadap ART. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }