
NEWSBORNEO.ID – Dua atlet muda mencatat hasil terbaik pada nomor speed National Climbing Series 3 di Kutai Timur. Muhammad Tsani Ramadhan menjuarai Speed World Record U13 putra, sedangkan Ba’da Maulana Pramudja Negara menjadi juara U15 putra.
Tsani dari Eiger Climbing Club Surabaya mencatat waktu 9,31 detik pada final U13. Posisi kedua ditempati Muhammad Fadlan dari Crex Borneo dengan 11,57 detik, sementara atlet tuan rumah Nahum Timothy Ebenheizer menempati peringkat ketiga.
Pada kategori U15, Ba’da Maulana tampil tercepat dengan 8,66 detik. Randyaksa Alfatih Panigoro dari ECC Makassar berada di posisi kedua, sedangkan Abrizzam Azka Efendi dari ECC Surabaya meraih peringkat ketiga.
Hasil tersebut memperlihatkan persaingan atlet usia muda berlangsung ketat. Selisih waktu pada nomor speed sangat tipis, sehingga teknik start, efisiensi gerak, fokus, dan konsistensi menjadi faktor penentu pada setiap ronde.
Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, sebelumnya menyebut NCS 3 sebagai kesempatan daerah memperkuat pembinaan olahraga. “Meningkatkan kualitas atlet,” kata Basuki saat rangkaian kejuaraan berlangsung.
Atlet Kutim juga memperoleh keuntungan karena dapat bertanding di venue sendiri menghadapi lawan dari berbagai provinsi. Pengalaman itu memberi ukuran nyata mengenai level kemampuan yang harus dicapai jika ingin bersaing secara nasional.
“Peserta dari 11 provinsi,” ujarnya.
Kejuaraan berlangsung pada 9–14 Oktober 2026 dan mempertemukan atlet dari sejumlah daerah. Bagi atlet kelompok umur, kompetisi seperti ini penting karena jalur prestasi panjat tebing membutuhkan pengalaman bertanding sejak usia muda.
Kutim berharap keberhasilan menjadi tuan rumah tidak berhenti pada penyelenggaraan. Atlet lokal yang tampil kompetitif perlu terus dipantau, dilatih, dan diberi kesempatan mengikuti seri berikutnya agar pengalaman NCS 3 menghasilkan perkembangan jangka panjang.
Catatan waktu para juara menjadi ukuran yang dapat dibandingkan dengan kompetisi berikutnya. Atlet muda membutuhkan target yang jelas agar latihan tidak sekadar rutin, tetapi diarahkan pada perbaikan start, kecepatan perpindahan, dan efisiensi gerak di dinding panjat.
Bagi atlet Kutim yang belum naik podium, kesempatan bertanding di NCS tetap memberi nilai penting. Mereka dapat melihat langsung pola pemanasan, disiplin, dan strategi atlet dari daerah lain, kemudian membawa pengalaman itu ke latihan di klub masing-masing.
“Kebanggaan bagi Kutai Timur,” tegas Basuki. (adv)
Tidak ada komentar