Kaltim Bidik Produksi 2 Juta Ton Metanol per Tahun, Investasi Gasifikasi Batu Bara Tembus Rp41,2 Triliun

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
2 Okt 2026 15:13
3 menit membaca

SAMARINDA – Kalimantan Timur bersiap mengembangkan salah satu proyek hilirisasi energi berskala besar melalui pengolahan batu bara kalori rendah menjadi metanol. Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Kutai Timur tersebut ditargetkan mampu menghasilkan hingga 2 juta ton metanol setiap tahun.

Proyek gasifikasi batu bara itu dikembangkan secara terpadu di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Arwanto, mengatakan proyek tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi komoditas batu bara agar menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Proyek hilirisasi ini dirancang untuk mengolah komoditas batu bara berkalori rendah menjadi produk metanol yang sangat dibutuhkan industri,” kata Bambang di Samarinda, Kamis.

Pengembangan fasilitas pengolahan metanol tersebut akan memanfaatkan lahan sekitar 93 hektare. Nilai investasi yang disiapkan juga tergolong besar, yakni mencapai Rp41,2 triliun.

Menurut Bambang, teknologi gasifikasi memungkinkan batu bara dengan nilai ekonomi relatif rendah diolah menjadi produk metanol yang memiliki nilai tambah sekaligus berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“Pengolahan batu bara kalori rendah melalui teknologi gasifikasi ini berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp7,1 triliun setiap tahun,” ujarnya.

Olah 7,7 Juta Ton Batu Bara per Tahun

Untuk mendukung kapasitas produksi tersebut, pabrik nantinya membutuhkan pasokan batu bara kalori rendah dalam jumlah besar.

Fasilitas pengolahan diproyeksikan menyerap sekitar 7,7 juta ton batu bara per tahun, dengan spesifikasi kalori sekitar 3.400 kilokalori per kilogram.

Batu bara non-spesifikasi yang selama ini cenderung memiliki nilai jual lebih rendah akan diproses melalui teknologi gasifikasi menjadi metanol dengan standar internasional yang mengacu pada International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA).

“Hasil olahan produk metanol tersebut akan difungsikan secara optimal sebagai bahan campuran bahan bakar minyak serta pasokan industri petrokimia,” tutur Bambang.

Dengan skema tersebut, hilirisasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi batu bara, tetapi juga menyediakan bahan baku bagi sektor energi dan industri petrokimia.

Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical, yang merupakan konsorsium PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal.

Serap Ribuan Tenaga Kerja

Selain nilai investasi dan kapasitas produksi, proyek gasifikasi tersebut juga diproyeksikan memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja di Kalimantan Timur.

Pada puncak pembangunan fasilitas pabrik, proyek strategis nasional ini diperkirakan mampu menyerap hingga 5.000 tenaga kerja.

Pemprov Kaltim pun meminta pengembang memberikan perhatian serius terhadap keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan proyek.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur secara tegas menekankan agar jajaran pengembang proyek senantiasa memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal daerah,” kata Bambang.

Setelah memasuki tahap operasional penuh, kebutuhan tenaga kerja memang akan lebih kecil dibandingkan masa konstruksi. Namun, pabrik tersebut tetap diperkirakan membutuhkan sekitar 800 tenaga kerja tetap.

Pemprov Kaltim berharap kehadiran proyek tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.

Mulai dari penyerapan tenaga kerja, aktivitas usaha pendukung, peningkatan nilai tambah komoditas, hingga terbentuknya rantai industri baru di sekitar kawasan proyek.

Pemerintah daerah pun menyatakan akan terus mengawal investasi hilirisasi energi tersebut hingga memasuki tahap produksi.

“Kami berkomitmen penuh memastikan proyek hilirisasi ini berjalan tuntas hingga tahap produksi demi mewujudkan kedaulatan energi nasional,” ujar Bambang.

Jika berjalan sesuai rencana, proyek gasifikasi batu bara di Bengalon ini akan menjadi salah satu penggerak hilirisasi energi di Kaltim sekaligus memperluas pemanfaatan batu bara kalori rendah yang selama ini memiliki nilai ekonomi lebih terbatas. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }