Kejurkab Bulutangkis Digelar di Sangkulirang, Atlet Muda Kutim Didorong Naik Kelas

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
17 Sep 2026 22:15
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Kejuaraan Kabupaten Bulutangkis Kutai Timur 2026 digelar di Sangkulirang sebagai ruang uji kemampuan sekaligus pencarian bibit atlet. Peserta dari berbagai kelompok usia mendapat kesempatan menambah jam bertanding di luar latihan rutin.

Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, mengapresiasi PBSI dan pihak yang mendukung penyelenggaraan. Pemerintah menilai kompetisi di kecamatan penting agar pembinaan tidak hanya terkonsentrasi di Sangatta.

“Memberikan ruang bagi atlet untuk berkembang,” kata Basuki.

Kejurkab juga memperluas kesempatan pencarian pemain potensial. Atlet yang selama ini aktif di klub atau sekolah dapat dinilai melalui pertandingan nyata, mulai dari teknik, stamina, konsistensi, hingga kemampuan mengelola tekanan.

“Mencari bibit-bibit atlet potensial,” ujarnya.

Penyelenggaraan di Sangkulirang membuat atlet dari kawasan timur Kutim lebih dekat dengan arena kompetisi. Hal ini dapat mengurangi hambatan jarak sekaligus membuka perhatian pembina terhadap pemain yang sebelumnya jarang tampil pada event tingkat kabupaten.

Dispora mendorong pertandingan menjadi awal pembinaan, bukan titik akhir. Atlet yang menonjol perlu mendapat latihan lanjutan, agenda kompetisi, dan evaluasi agar perkembangan mereka dapat diukur dari waktu ke waktu.

“Mengisi waktu luang dengan kegiatan positif,” jelas Basuki.

Kejuaraan juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya olahraga di masyarakat. Ketika turnamen hadir secara rutin, anak muda memiliki ruang aktivitas yang sehat dan masyarakat mendapat tontonan yang dekat dengan lingkungan mereka.

Bagi PBSI, hasil pertandingan dapat menjadi bahan pemetaan kelompok umur dan daerah asal atlet. Data tersebut penting ketika menyusun program pembinaan dan menentukan pemain yang layak dipersiapkan pada kompetisi berikutnya.

Pembinaan di kelompok umur perlu dicatat secara konsisten agar atlet yang menonjol tidak hilang setelah turnamen. Klub, sekolah, PBSI dan Dispora dapat menggunakan hasil pertandingan sebagai dasar menyusun latihan serta memilih pemain untuk agenda lanjutan.

Kegiatan di kecamatan juga memberi pesan bahwa akses kompetisi harus tersebar. Jika atlet selalu harus datang ke Sangatta, biaya perjalanan dan waktu dapat menjadi hambatan bagi keluarga. Penyelenggaraan bergilir dapat membantu memperluas partisipasi.

“Pengalaman bertanding yang lebih banyak,” tegasnya. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }