
NEWSBORNEO.ID – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai membidik pasar wisata nasional melalui pengembangan wisata budaya. Salah satu potensi yang diandalkan adalah Erau Adat Pelas Benua yang berlangsung pada 9–12 Oktober 2026 di Sangatta.
Perayaan adat tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi masyarakat Kutai. Pemerintah daerah juga melihat peluang untuk menarik kunjungan wisatawan sekaligus memperkenalkan produk ekonomi kreatif masyarakat.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan kekayaan budaya daerah memiliki nilai penting dalam pengembangan sektor pariwisata.
“Terlebih pelestarian budaya ini juga dipadukan dengan pengembangan potensi ekonomi kreatif masyarakat, sehingga pengunjung tidak hanya bisa menikmati warisan budaya leluhur, tapi juga aneka produk khas lokal,” ujar Ardiansyah saat pembukaan kegiatan.
Wisata Budaya Jadi Daya Tarik Kutim
Erau Adat Pelas Benua merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kutim dengan mengusung tema Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Datuk Sampai bin Lohom di kawasan Jalan Guru Besar, Sangatta.
Tokoh tersebut tercatat pernah menjabat sebagai kepala adat pada periode 1855–1901 dan menjadi bagian dari sejarah masyarakat setempat.
Selain prosesi adat, pengunjung juga dapat mengenal beragam tradisi masyarakat Kutai melalui kegiatan yang dipusatkan di Rumah Lamin Adat.
Perayaan tersebut membuka peluang pengembangan paket wisata budaya yang menggabungkan sejarah, tradisi, dan pengalaman langsung bagi pengunjung.
Peluang UMKM Raup Manfaat
Pengembangan wisata budaya juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Produk kuliner, kerajinan tangan, hingga cenderamata khas Kutim dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Selain itu, agenda budaya seperti Erau berpeluang menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi wisata lain di Kutim.
Kabupaten ini memiliki potensi wisata pesisir, bahari, serta kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pilihan perjalanan wisatawan.
Melalui pengembangan tersebut, Pemkab Kutim berharap pelestarian adat dapat berjalan seiring dengan peningkatan daya tarik pariwisata daerah.
Bagi Ardiansyah, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Adat dan tradisi juga merupakan modal penting bagi masyarakat untuk mengenali identitas sekaligus membangun masa depan daerah. (adv)
Tidak ada komentar