Salah satu penjual plastik yang terpaksa menaikan harga jualnya.BONTANG – Lonjakan harga plastik di Kota Bontang, Kalimantan Timur, tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Sejak awal April 2026, harga berbagai jenis kemasan, mulai dari kantong kresek, mika makanan, hingga cup minuman, naik hingga 40 persen, memberikan tekanan besar bagi pedagang maupun masyarakat.
Pantauan media ini menunjukkan hampir semua jenis plastik di toko-toko penjual mengalami kenaikan signifikan. Mira Puspita (31), penjaga toko plastik di Bontang Selatan, mengatakan tren kenaikan mulai terasa sejak Idulfitri Maret 2026.
“Kami tidak bisa berbuat banyak. Harga yang sebelumnya Rp9.000 tiba-tiba naik menjadi Rp15 ribu. Hampir semua jenis plastik naik hampir 40 persen,” ungkapnya, Minggu (6/4/2026).
Menurut Mira, kenaikan ini berkaitan dengan gangguan pasokan energi minyak bumi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Biji plastik yang menjadi bahan baku utama dibuat dari minyak bumi dan gas alam, sehingga harga jual ikut terdongkrak.
“Iya, karena perang. Katanya biji plastik ini dibuat dari minyak bumi,” tambahnya.
Kenaikan harga membuat pedagang harus menomboki modal lebih besar, terutama bagi yang sudah menjual stok lama sebelum harga naik. Mimin, pedagang plastik lainnya, menilai kenaikan ini berpotensi memicu efek domino pada harga pangan, karena plastik menjadi komponen utama pengemasan makanan.
“Kalau harga plastik naik, harga lain-lain juga naik. Harga tempe, harga tahu ikut naik. Hidup rakyat malah ketekan terus,” keluhnya.
Sutrisno (48) menambahkan, “Tahun ini kenaikannya ugal-ugalan, ada yang naik Rp5.000, Rp7.000, bahkan Rp15 ribu. Omzet naik tipis, tapi modal kulak harus ditambah.”
Jenis plastik tertentu, seperti Polyethylene (PE), mengalami kenaikan drastis dari Rp25 ribu menjadi Rp55 ribu per pack. Stok di tingkat agen juga dibatasi, hanya 2–3 dus per pedagang, sehingga ketersediaan barang menjadi terbatas.
Pedagang makanan juga merasakan dampaknya. Sismiati, penjual batagor di Kota Bontang, menuturkan biaya kemasan meningkat dari Rp20.000 menjadi Rp40.000 per 100 pack sejak puasa hingga Lebaran. Meski demikian, ia tetap menahan harga jual demi konsumen.
“Pedagang harus mengalah karena melihat masyarakat juga kebingungan. Gaji mereka tidak naik, tapi semua harga serba naik,” ujarnya.
Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) menyebut kondisi geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor utama kenaikan harga plastik. Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan plastik diproduksi dari nafta, turunan minyak bumi, sebagian besar berasal dari Asia Barat.
“Sekarang akibat perang, Selat Hormuz ditutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen dari Middle East tidak bisa terkirim ke industri petrokimia,” kata Fajar.
Selain jalur distribusi terganggu, fasilitas produksi di Arab Saudi dan negara Teluk ikut terdampak konflik, membatasi pasokan nafta. Kombinasi distribusi tersendat dan produksi terhambat menyebabkan industri menghadapi ketidakpastian global.
Tren kenaikan harga mulai terlihat sejak awal Maret 2026, menjelang Idulfitri, ketika permintaan meningkat. Fajar memperingatkan perubahan pola bisnis di industri plastik akan terus berlanjut sekitar 10 hari pasca Lebaran.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi pedagang dan konsumen untuk lebih cermat mengatur keuangan, sementara pemerintah diharapkan memantau dampak kenaikan harga plastik terhadap inflasi dan harga pangan.
Tidak ada komentar