Pasokan Gas Nasional Bertambah 290 MMSCFD, Bahlil Resmikan Proyek JNE-6 dan Lapangan Maha

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
22 Okt 2026 20:48
3 menit membaca

BALIKPAPAN – Pasokan gas nasional diproyeksikan bertambah hingga 290 juta kaki kubik standar per hari (*million standard cubic feet per day*/MMSCFD) melalui pengembangan proyek Jangkrik North East 6 (JNE-6) dan Lapangan Maha-South Hub di Kalimantan Timur.

Peresmian penerimaan gas dari proyek tersebut dilakukan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan dipusatkan di sumur JNE-6, sekitar 12 mil laut dari daratan, dan turut dilaksanakan secara virtual.

Dalam kegiatan tersebut, Bahlil didampingi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, serta CEO Searah Muara Bakau (SMB) Mirko Araldi.

Fasilitas produksi tersebut dimiliki PT Searah, perusahaan patungan Eni dan Petronas. Pengembangan kedua proyek ini diharapkan memperkuat ketersediaan gas untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Bahlil menjelaskan, kontribusi awal berasal dari sumur JNE-6 yang telah memasok sekitar 60 MMSCFD. Sementara itu, tambahan produksi dari Lapangan Maha dengan kapasitas sekitar 230 MMSCFD ditargetkan mulai berproduksi pada akhir Oktober 2026.

Dengan demikian, total tambahan pasokan gas dari kedua proyek tersebut diperkirakan mencapai 290 MMSCFD apabila target produksi Lapangan Maha terealisasi.

“Hari ini berarti kita sudah terima kurang lebih sekitar 60 MMSCFD, ditambah fasilitas yang siap untuk kita diproduksi lagi di akhir bulan ini 230 MMSCFD, artinya ini ada penambahan sekitar 290 MMSCFD,” kata Bahlil.

Menurut dia, tambahan pasokan tersebut merupakan kontribusi penting bagi ketahanan energi nasional. Ketersediaan gas diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung pertumbuhan industri yang memanfaatkan gas sebagai sumber energi maupun bahan baku.

“Ini adalah sebuah angka yang tidak sedikit karena ini bisa meng-cover,” ujar Bahlil.

Selain meresmikan penerimaan tambahan pasokan gas, Bahlil menyampaikan target peningkatan produksi migas dari sejumlah blok yang dikelola Eni.

Hingga 2028–2029, produksi gas dari blok-blok tersebut ditargetkan mencapai 3.000 MMSCFD. Sementara itu, produksi kondensat diproyeksikan mencapai 130.000 barel per hari.

Pengembangan lapangan migas tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produksi minyak nasional. Pemerintah menargetkan *lifting* minyak mencapai 900.000 hingga 1 juta barel per hari pada 2029–2030.

Target tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian lifting minyak saat ini yang, menurut Bahlil, masih berada di kisaran lebih dari 600.000 barel per hari.

“Jadi ini nanti di 2029, target Bapak Presiden untuk bisa mencapai 900 ribu sampai 1 juta barel 2029-2030, sekarang rata-rata lifting kita di atas 600 lebih,” kata Bahlil.

Ia optimistis pengembangan blok-blok migas, termasuk yang dikelola Eni, dapat membantu pemerintah mengejar target peningkatan produksi tersebut.

“InsyaAllah doakan dengan penambahan yang ada, maka target dari Bapak Presiden untuk mencapai 900 ribu barel sampai 1 juta barel 2029-2030 salah satu kontribusinya adalah dari Eni,” lanjutnya.

Bahlil juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengembangan lapangan minyak dan gas. Menurut dia, PT Searah dan Eni telah menerapkan teknologi dalam kegiatan produksi untuk mendukung pengembangan proyek.

Selain penerapan teknologi, pemerintah berupaya mempercepat proses perizinan dan penyelesaian kontrak agar proyek eksplorasi maupun pembangunan fasilitas migas dapat segera menghasilkan produksi.

Bagi pemerintah, keberhasilan pengembangan sektor hulu migas tidak cukup diukur dari nilai investasi atau pembangunan fasilitas semata. Hal yang tidak kalah penting adalah kecepatan proyek tersebut menghasilkan minyak dan gas untuk memenuhi kebutuhan nasional.

“Kata kunci dari sebuah eksplorasi, konstruksi, itu adalah kapan produksinya,” ujar Bahlil.

Ia menegaskan, percepatan produksi menjadi salah satu arahan utama Presiden dalam pengembangan sektor energi.

“Dan arahan Bapak Presiden, produksi itu adalah kita tekankan sebagai bagian terpenting untuk melakukan percepatan,” kata Bahlil.

Tambahan pasokan dari JNE-6 dan Lapangan Maha-South Hub diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketersediaan gas nasional. Pengembangan kedua proyek tersebut sekaligus mempertegas pentingnya percepatan produksi dan optimalisasi potensi migas untuk mendukung ketahanan energi Indonesia. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }