
NEWSBORNEO.ID – Desa Pulau Miang di Kutai Timur mencatat kunjungan sekitar 2.000 hingga 3.000 wisatawan per bulan. Arus kunjungan itu mulai menggerakkan homestay, vila, kuliner, serta pekerjaan warga yang melayani kebutuhan wisatawan.
Kepala Desa Pulau Miang, Sapina, mengatakan angka tersebut berasal dari pendataan sementara yang dilakukan pemerintah desa. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung meningkat dan memberi dampak langsung pada aktivitas ekonomi setempat.
“Dua ribu sampai tiga ribu wisatawan,” kata Sapina.
Desa memiliki sejumlah UKM, homestay, vila, dan layanan pendukung yang berkembang mengikuti kebutuhan pengunjung. Kehadiran wisatawan membuat sebagian warga memperoleh tambahan penghasilan dari penyediaan tempat tinggal, makanan, transportasi, dan jasa lainnya.
“Bersama-sama kami mempromosikan wisata,” ujarnya.
Promosi dilakukan bersama pemerintah dan pihak swasta. Pulau Miang menawarkan pengalaman pesisir, panorama laut, kehidupan masyarakat, serta suasana kepulauan yang berbeda dari destinasi daratan.
Peningkatan kunjungan juga menuntut kesiapan pelayanan. Kebersihan, pengelolaan sampah, air bersih, keselamatan, serta kapasitas penginapan perlu mengikuti pertumbuhan wisata agar pengalaman pengunjung tetap baik.
“Menjamu wisatawan di vila-vila,” jelas Sapina.
Pemerintah desa ingin manfaat wisata menyebar lebih luas. Warga didorong terlibat dalam usaha kuliner, penginapan, jasa perjalanan, maupun produk lokal sehingga pertumbuhan kunjungan tidak hanya dinikmati sebagian pelaku.
Kunjungan yang stabil juga memberi peluang membangun paket wisata lebih teratur. Wisatawan dapat diarahkan tidak hanya datang singkat, tetapi tinggal lebih lama dan menggunakan lebih banyak layanan warga.
Pemerintah desa juga perlu menjaga kapasitas lingkungan ketika kunjungan meningkat. Pulau dengan ruang terbatas membutuhkan pengaturan sampah, air bersih, dan transportasi agar pertumbuhan wisata tidak menekan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Pelaku usaha lokal dapat memperkuat manfaat melalui paket yang saling terhubung, misalnya penginapan, kuliner, perjalanan laut, dan aktivitas masyarakat. Pola ini membuat belanja wisatawan tersebar ke lebih banyak keluarga, bukan berhenti pada satu jenis layanan.
Penguatan layanan dasar menjadi penting agar pertumbuhan kunjungan tetap nyaman bagi wisatawan sekaligus tidak membebani warga setempat.
“Merasakan keuntungan dari sektor tersebut,” tegasnya. (ADV)
Tidak ada komentar