Tinju Kalbun Jadi Ruang Positif Pemuda Kutim

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
13 Sep 2026 09:17
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Ajang Tinju Siapa Berani Kalbun di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Kaliorang, diposisikan bukan sekadar hiburan. Dinas Pemuda dan Olahraga Kutai Timur melihat kegiatan tersebut sebagai ruang positif untuk menyalurkan energi anak muda sekaligus memperkuat pembinaan olahraga.

Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, mengapresiasi Forkopimcam, kepolisian, pemerhati olahraga, serta pihak lain yang terlibat sejak persiapan hingga penutupan. Kehadiran penonton dan pelaku UMKM juga membuat kegiatan memberi dampak di luar arena pertandingan.

“Kegiatan positif ini,” kata Basuki.

Menurutnya, olahraga dapat menjadi pilihan nyata bagi anak muda untuk mengisi waktu dengan aktivitas yang terarah. Kompetisi memberi ruang melatih disiplin, keberanian, kontrol emosi, dan mental bertanding, sekaligus mempertemukan masyarakat dalam suasana yang lebih sehat.

“Wadah yang tepat bagi anak-anak muda,” ujarnya.

Dispora ingin kegiatan semacam ini terus berkembang di kecamatan. Semakin banyak ruang olahraga tersedia, semakin besar peluang menemukan bibit atlet sekaligus mengurangi paparan terhadap narkoba, judi online, balap liar, dan tawuran.

Ajang di Kaliorang juga menunjukkan pembinaan tidak harus selalu dimulai dari kompetisi besar. Event lokal dapat menjadi titik awal untuk mengidentifikasi peserta yang memiliki kemampuan, kemudian diarahkan ke latihan lebih rutin dan kejuaraan pada level berikutnya.

“Anak muda kita bisa tetap sehat,” jelas Basuki.

Keterlibatan perusahaan dan masyarakat dinilai penting agar program tidak berhenti setelah pertandingan. Dukungan lintas pihak dapat membantu penyediaan fasilitas, agenda lanjutan, serta ruang kompetisi yang lebih teratur.

Di sisi lain, keramaian event menciptakan pasar sementara bagi makanan, minuman, dan produk warga. Efek itu membuat olahraga tidak hanya berbicara soal medali, tetapi juga kebersamaan serta aktivitas ekonomi lokal.

Kegiatan semacam ini juga memberi pembina gambaran awal tentang peserta yang memiliki keberanian, teknik dasar, dan mental kompetitif. Atlet yang menonjol dapat diarahkan mengikuti latihan yang lebih terstruktur, sehingga event lokal memiliki jalur lanjutan menuju pembinaan prestasi.

Dispora menilai keberlanjutan menjadi kunci. Jika turnamen hanya digelar sekali tanpa latihan dan kompetisi berikutnya, manfaat pembinaan akan cepat hilang. Karena itu, dukungan kecamatan, komunitas olahraga, perusahaan, dan masyarakat tetap diperlukan setelah acara berakhir.

“Menciptakan kerukunan dan ketertiban,” tegasnya. (adv)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }