Tak Hanya Gempa Lokal, BPBD Bontang Bisa Pantau Getaran dari Wilayah Lain

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
7 Sep 2026 10:24
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Getaran gempa yang terjadi jauh dari Bontang ternyata tetap bisa terpantau di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang.

Hal itu didukung perangkat Warning Receiver System (WRS) InaTEWS milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang ditempatkan di kantor BPBD. Perangkat tersebut menerima informasi kegempaan dari sistem BMKG secara real time.

Kepala Pelaksana BPBD Bontang melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ismail Abdullah, mengatakan informasi yang diterima perangkat tidak terbatas pada kejadian gempa di sekitar Bontang.

Salah satunya ketika terjadi gempa di wilayah Sulawesi tengah pada bulan Agustus lalu. Meski getarannya hanya dirasakan ringan di Bontang, informasi kejadian tersebut tetap dapat terpantau melalui perangkat yang berada di kantor BPBD.

“Seperti gempa yang terjadi di Sulawesi, getarannya sampai Bontang. Meski dirasa sedikit, kita juga bisa deteksi,” kata Ismail.

Pada layar perangkat tersebut, petugas dapat melihat informasi terkait kejadian gempa, termasuk lokasi atau titik koordinat, wilayah kejadian dan besaran getaran. Sistem WRS BMKG memang dirancang untuk menerima informasi gempa secara real time sekaligus mendukung penyebaran informasi peringatan dini tsunami.

Tak hanya gempa yang terjadi di daratan, informasi kejadian gempa di bawah laut juga dapat diterima. Kondisi ini menjadi bagian penting dalam pemantauan karena gempa bawah laut dengan parameter tertentu dapat berkaitan dengan potensi tsunami.

Meski demikian, Ismail menegaskan perangkat tersebut bukan alat yang dapat memprediksi gempa sebelum kejadian. Fungsinya menerima informasi dari sistem BMKG setelah gempa terdeteksi dan kemudian menampilkannya kepada petugas.

Artinya, ketika layar menunjukkan adanya kejadian gempa, informasi tersebut menjadi gambaran awal bagi BPBD untuk mengetahui apa yang terjadi dan di mana lokasi pusat gempanya.

Bagi BPBD Bontang, keberadaan perangkat tersebut membuat pemantauan kejadian kegempaan dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu laporan dari masyarakat.

Ismail mengatakan keberadaan teknologi itu menjadi salah satu pendukung bagi petugas dalam memahami kondisi kebencanaan yang terjadi, termasuk ketika pusat kejadian berada di luar wilayah Bontang.

“Jadi kita bisa tahu kejadiannya di mana, seberapa besar getarannya, dan apakah ada informasi lanjutan dari BMKG. Kalau ada peringatan resmi, baru itu yang menjadi acuan untuk langkah berikutnya,” pungkasnya. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }