
Pedestrian di Jalan MT Haryono menjadi salah satu contoh penataan kota yang tengah dilakukan pemerintah.BONTANG — Perlahan, namun pasti. Pemerintah Kota Bontang terus membenahi wajah kota. Jalan-jalan utama kini tampil lebih lapang tanpa baleho, kawasan pedestrian kian nyaman tanpa kabel semrawut. Kota Taman mulai menata diri dengan pendekatan yang tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga aman dan berkelanjutan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan penataan kota yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang pembangunan perkotaan yang terintegrasi. Estetika, keselamatan, dan kenyamanan warga menjadi tiga pilar utama yang ingin diwujudkan.
Salah satu langkah nyata adalah pembongkaran seluruh baleho yang selama ini berdiri di median jalan. Menurut Neni, keberadaan baleho tidak hanya mengganggu keindahan kota, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
“Dulu ada sekitar 15 tiang baleho di tengah jalan. Sekarang dari Tanjung Laut sampai Tugu Selamat Datang sudah bersih. Tidak elok memang kalau kota penuh baleho. Yang ditonjolkan seharusnya kinerja, bukan foto,” ujar Neni, Kamis (5/2/2026).
Kebijakan tersebut, lanjut Neni, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia yang menekankan pentingnya penataan kota agar lebih tertib dan sedap dipandang. Menariknya, langkah penertiban baleho di Bontang telah lebih dulu dilakukan sebelum arahan tersebut disampaikan secara resmi.
Tak hanya soal baleho, Pemerintah Kota Bontang juga mulai menata persoalan klasik perkotaan lainnya: kabel utilitas yang selama ini menggantung di udara. Melalui sistem ducting, kabel-kabel tersebut ditanam di bawah tanah agar lebih rapi, aman, dan tidak merusak estetika kota.
“Kita sering melihat kabel sudah ditanam rapi, tapi tak lama kemudian muncul galian baru. Ini yang ingin kita hentikan. Semua harus direncanakan dan terintegrasi sejak awal,” jelasnya.
Penataan kabel bawah tanah ini sudah diterapkan di sejumlah titik, salah satunya kawasan pedestrian yang kini menjadi ruang publik favorit warga untuk berolahraga dan bersantai. Jalur pejalan kaki yang nyaman, lampu jalan yang tertata, serta ketiadaan kabel di udara menjadi gambaran konkret perubahan wajah kota.
Ke depan, Pemkot Bontang berencana memperluas penerapan sistem ducting, terutama di kawasan pesisir dan wilayah yang tidak rawan banjir. Namun, Neni menegaskan proyek tersebut tidak bisa dilakukan secara instan dan membutuhkan perencanaan matang, sehingga baru akan masuk tahap perencanaan pada tahun depan.
Untuk memastikan penataan berjalan optimal, Wali Kota meminta Penjabat Sekretaris Daerah berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait serta PLN. Tujuannya agar penataan kabel dan infrastruktur kota dapat berjalan selaras tanpa menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
“Ini bukan sekadar menata kabel atau membongkar baleho. Ini tentang bagaimana kota dibangun dengan rapi, nyaman, dan berkelanjutan. Demi kemajuan kota dan bangsa,” pungkas Neni. (PRA/FR)
Tidak ada komentar