Enam Desa Sangkulirang Nikmati Listrik 24 Jam, Pemerataan Kutim Makin Terasa

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
12 Okt 2026 19:45
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Enam desa di Kecamatan Sangkulirang kini menikmati layanan listrik 24 jam. Capaian tersebut menjadi bagian dari pemerataan infrastruktur dasar yang disorot Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pada momentum HUT ke-27 daerah.

Pemkab menempatkan elektrifikasi sebagai salah satu kebutuhan utama karena listrik berpengaruh langsung pada aktivitas rumah tangga, pendidikan, pelayanan kesehatan, komunikasi, dan usaha masyarakat di desa.

“Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama,” ungkap Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman.

Listrik penuh selama 24 jam membuat warga memiliki waktu lebih leluasa menjalankan usaha berbasis peralatan listrik. Warung, bengkel, pendingin hasil perikanan, layanan digital, serta usaha rumahan memiliki peluang berkembang dibanding saat pasokan hanya tersedia pada jam tertentu.

Pemerintah juga mengaitkan pemerataan listrik dengan visi pembangunan daerah. “Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing,” menjadi arah yang ditetapkan dalam periode pembangunan berjalan.

Bagi sekolah dan layanan kesehatan, pasokan yang lebih stabil mendukung penggunaan perangkat elektronik, penyimpanan obat, akses internet, dan pelayanan pada malam hari. Dampak tersebut membuat elektrifikasi menjadi fondasi bagi program lain.

Pemkab tetap perlu menjaga kualitas jaringan dan menangani wilayah yang belum memperoleh layanan setara. Pemerataan dinilai belum selesai apabila masih ada desa yang menghadapi keterbatasan jam nyala atau kapasitas daya.

“Jemput Bola,” menjadi pendekatan pelayanan yang ikut ditekankan dalam berbagai program pemerintah.

Capaian di Sangkulirang juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi pemerintah daerah dan PLN. Perencanaan jaringan harus mengikuti sebaran permukiman, kebutuhan daya, serta kondisi geografis agar investasi memberi manfaat maksimal.

Pemkab menegaskan pembangunan harus dirasakan lintas wilayah, bukan hanya pusat kabupaten. Infrastruktur dasar menjadi ukuran paling mudah dilihat warga karena dampaknya langsung menyentuh kegiatan sehari-hari.

Perubahan paling terasa dapat muncul pada usaha kecil yang sebelumnya menyesuaikan jam operasional dengan ketersediaan listrik. Ketika pasokan berlangsung sepanjang hari, warga dapat menyimpan bahan, menggunakan mesin, mengisi perangkat, dan melayani pelanggan dengan waktu lebih fleksibel.

Elektrifikasi juga mendukung akses informasi. Koneksi internet, perangkat komunikasi, dan layanan digital lebih mudah digunakan ketika pasokan listrik stabil. Hal ini membuka peluang pendidikan jarak jauh, transaksi nontunai, serta akses pasar bagi pelaku usaha desa.

“Tumbuh dan maju bersama,” menjadi pesan yang ditekankan. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }