Dugaan Kelalaian Medis di RSUD AWS Samarinda, Diskes Kaltim Lakukan InvestigasiSAMARINDA – Kasus dugaan kelalaian medis yang menimpa seorang bayi berusia tiga bulan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS), Samarinda mendapat perhatian serius dari Pemprov Kaltim.
Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim memastikan tengah melakukan pendalaman terhadap insiden yang menyebabkan tangan bayi tersebut menghitam setelah pemasangan infus saat menjalani perawatan.
Kepala Diskes Kaltim, Jaya Mualimin, menyatakan pihaknya telah menerima laporan awal dan kini mengumpulkan informasi secara menyeluruh.
“Kami sedang menghimpun data dan mendalami kejadian tersebut. Yang jelas, permasalahan ini harus segera diselesaikan oleh pihak rumah sakit,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Kasus ini bermula saat bayi tersebut menjalani perawatan akibat muntah dan diare (muntaber). Pada Jumat (6/3), dilakukan pemasangan ulang infus di tangan kanan bayi di ruang tindakan rumah sakit.
Namun, menurut keterangan orang tua korban, kondisi anaknya justru memburuk. Tangan bayi mengalami pembengkakan hebat, melepuh, hingga berubah warna menjadi hitam. Diduga, cairan infus tidak masuk ke pembuluh darah sebagaimana mestinya.
Laporan terkait kondisi tersebut juga telah diterima Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak, yang kemudian meneruskan informasi ke Diskes Kaltim.
Menanggapi insiden ini, Jaya menegaskan bahwa kejadian tersebut termasuk kategori kejadian tidak diinginkan dalam layanan medis yang wajib segera ditangani dan dievaluasi secara komprehensif.
Ia menginstruksikan manajemen rumah sakit untuk bersikap terbuka, termasuk memanggil pihak keluarga dan menyampaikan kronologi kejadian secara transparan kepada Dinkes sebagai bentuk pertanggungjawaban.
“Langkah cepat dan tepat sangat diperlukan agar tidak menimbulkan ketidakpuasan masyarakat yang bisa berujung pada somasi atau tuntutan hukum,” tegasnya.
Diskes Kaltim mengingatkan bahwa sesuai pedoman Kementerian Kesehatan, setiap pasien berhak mendapatkan pelayanan yang mengutamakan keselamatan tanpa menimbulkan dampak yang merugikan.
Standar pelayanan medis, lanjut Jaya, menempatkan mutu layanan dan keselamatan pasien sebagai prioritas utama, dengan target meminimalkan bahkan meniadakan insiden yang berisiko fatal.
Di sisi lain, pihak keluarga mengaku sempat mendapat rekomendasi tindakan operasi bedah plastik dari dokter. Namun, usulan tersebut ditolak karena kekhawatiran terhadap kondisi bayi yang masih sangat kecil.
Keluarga berharap pihak rumah sakit bertanggung jawab penuh dan memberikan penanganan terbaik agar kondisi tangan bayi dapat pulih seperti semula.
Diskes Kaltim juga mengajak insan pers untuk ikut mengawal proses investigasi secara profesional dan proporsional, berdasarkan fakta yang berkembang di lapangan. (DIAS)
Tidak ada komentar