
BNN Tanah Merah Rehabilitasi 335 Klien sepanjang 2025, Layanan Terus Dibuka selama Kapasitas AdaSAMARINDA – Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Tanah Merah terus memperkuat perannya dalam pemulihan penyalahguna narkoba. Sepanjang 2025, sebanyak 335 klien telah menjalani layanan rehabilitasi di balai tersebut.
Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan itu sejalan dengan komitmen BNN Tanah Merah untuk tetap membuka layanan selama kapasitas masih tersedia.
Kepala Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah, Bambang Styawan, mengatakan mayoritas klien yang direhabilitasi merupakan laki-laki dewasa. Dari total 335 klien, sebanyak 298 orang adalah dewasa laki-laki, disusul 15 dewasa perempuan.
Sementara untuk kelompok anak dan remaja, tercatat 18 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Seluruh klien usia muda tersebut mendapatkan penanganan dengan pendekatan dan lingkungan khusus sesuai kebutuhan mereka.
Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah sendiri memiliki daya tampung hingga 120 tempat tidur setiap hari. Dengan kapasitas itu, balai berupaya menjangkau sebanyak mungkin klien yang membutuhkan bantuan.
“Selama kami masih memiliki kemampuan, waktu, dan tempat, pasti kami terima. Tidak akan kami tolak,” ujar Bambang saat memaparkan capaian layanan rehabilitasi tahun 2025 di Samarinda, Jumat (16/1/2025).
Ia menjelaskan, masa rawat klien bervariasi. Umumnya berkisar antara tiga hingga enam bulan. Lamanya perawatan ditentukan oleh tingkat keparahan adiksi yang dialami.
Untuk kasus ringan, rehabilitasi dapat dilakukan melalui rawat jalan. Layanan ini tersedia di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah, BNN Provinsi, BNN Kabupaten/Kota, serta klinik instansi pemerintah yang menerima wajib lapor.
Bambang menegaskan, rehabilitasi tidak berhenti saat klien selesai menjalani rawat inap atau rawat jalan. Proses pemulihan harus terus berlanjut di tengah masyarakat.
“Dalam dunia adiksi tidak dikenal istilah sembuh. Yang ada adalah pulih. Adiksi merupakan penyakit kronis dan bisa kambuh,” jelasnya.
Karena itu, perubahan pola hidup menjadi kunci utama. Mulai dari gaya hidup sehat hingga pengelolaan aspek biologi, psikologis, sosial, dan spiritual harus dijalani secara berkelanjutan.
Sebagai tolok ukur keberhasilan, BNN Tanah Merah menggunakan instrumen Kualitas Hidup dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHOQOL. Alat ukur ini diakui secara nasional dan internasional.
Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah rehabilitasi. Tujuannya untuk melihat peningkatan kualitas hidup klien secara menyeluruh.
“Ketika kualitas hidup meningkat, baik secara biopsikososial maupun spiritual, kami berharap klien mampu pulih dan menjalani hidup tanpa narkoba,” pungkas Bambang. (SON)
Tidak ada komentar