
. Ratusan personel gabungan dari Satpol PP, kepolisian, hingga dinas terkait dikerahkan untuk menertibkan lapak pedagang kaki lima (PKL) yang berdiri di atas saluran drainase, Rabu (20/8/2025).
BONTANG – Suasana Jalan KS Tubun, Kelurahan Api-Api, Kota Bontang, mendadak ramai sejak pagi, Rabu (20/8/2025). Ratusan personel gabungan dari Satpol PP, kepolisian, hingga dinas terkait dikerahkan untuk menertibkan lapak pedagang kaki lima (PKL) yang berdiri di atas saluran drainase.
Satu per satu tenda dibongkar. Teras toko yang menjorok ke atas saluran pun ikut diratakan. Pedagang tampak terburu-buru menyelamatkan barang dagangan mereka. Sesekali adu argumen terjadi, namun ketegangan cepat mereda. Penertiban berlangsung lancar tanpa insiden besar.
Tidak hanya di Jalan KS Tubun. Aksi pembongkaran juga dilakukan di Jalan Ir Juanda dan Jalan Sam Ratulangi. Semua bangunan semi permanen yang menutup saluran air dibongkar petugas.
Langkah ini disebut penting untuk menjaga fungsi drainase kota agar tidak semakin parah ketika musim hujan tiba.
Namun, di balik penertiban itu, tersisa cerita lain dari para pedagang kecil.
Na, seorang pedagang yang lapaknya ikut dibongkar, mengaku sudah berulang kali mengalami hal serupa. Ia ingin tertib, tapi terhalang biaya sewa. Lapaknya yang disewa Rp30 juta per tahun terlalu sempit bila mundur dari saluran.
“Kalau mundur, tempat jualannya makin kecil. Dagangan makin susah laku,” keluhnya.
Sa, pedagang sayur di lokasi yang sama, menghadapi dilema berbeda. Ia sebenarnya punya lapak resmi di Pasar Taman Rawaindah. Tetapi, karena pasar sepi pembeli, ia memilih berjualan di luar. Untuk itu, ia pun harus menyewa bangunan hingga Rp30 juta per tahun.
“Kalau di dalam pasar, untungnya sulit. Balik modal saja susah. Sementara sewa tetap harus dibayar,” ujarnya.
Keduanya sama-sama mengakui sudah mendapat pemberitahuan sebelum pembongkaran. Namun, tuntutan hidup membuat aturan terpaksa mereka langgar. (FR)
Tidak ada komentar