Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Poros Bengalon–Muara Wahau Km 102, Desa Tepian Indah, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), Jumat (10/4/2026).KECELAKAAN lalu lintas yang melibatkan ambulans RSUD Taman Husada Bontang di Jalan Poros Bengalon–Muara Wahau, Jumat (10/4/2026), menyisakan sejumlah pertanyaan. Di tengah beredarnya informasi yang menyebut insiden dipicu kondisi jalan berlubang, pengemudi ambulans akhirnya angkat bicara.
Muhammad Nur Akbar, sopir ambulans yang terlibat dalam peristiwa tersebut, memberikan klarifikasi atas kronologi kejadian. Ia menegaskan, kecelakaan bukan disebabkan oleh upaya menghindari lubang, melainkan karena manuver kendaraan lain di jalan.
Menurut Akbar, insiden bermula saat ia melaju dari arah Muara Wahau menuju Bontang. Di depan kendaraannya, terdapat mobil travel jenis Toyota Avanza yang dinilai tidak berada pada jalur semestinya.
“Mobil itu tidak di jalurnya dan menyalakan lampu sein. Saya kira akan menepi, sehingga saya mengambil langkah menghindar,” ujarnya saat menghubungi pranala.co, Sabtu (11/4/2026) malam.
Namun situasi berubah cepat. Ketika ambulans mencoba menghindar, mobil travel tersebut justru kembali ke jalur semula. Jarak yang sudah terlalu dekat membuat tabrakan tidak terhindarkan.
Benturan keras pun terjadi. Kedua kendaraan mengalami kerusakan cukup parah, sementara beberapa penumpang dilaporkan mengalami luka ringan.
Akbar juga menanggapi informasi yang beredar sebelumnya terkait penyebab kecelakaan. Ia menyebut, anggapan bahwa insiden terjadi karena menghindari lubang tidak sesuai fakta di lapangan.
“Di lokasi kejadian tidak ada lubang. Memang ada, tapi sekitar 500 meter sebelum titik itu,” jelasnya.
Pernyataan ini sekaligus meluruskan narasi yang sempat berkembang di masyarakat.
Saat kejadian berlangsung, ambulans dalam kondisi tidak membawa pasien. Akbar bersama rekannya baru saja menyelesaikan tugas mengantar pasien ke Kabupaten Berau dan sedang dalam perjalanan kembali ke Bontang.
Ia menyebut kendaraan dijalankan dengan kecepatan normal, mengingat tidak dalam kondisi darurat.
“Posisi kami sedang kosong, jadi tidak ngebut,” katanya.
Pasca-kejadian, kedua pihak memilih menempuh jalur mediasi untuk menyelesaikan persoalan. Namun, proses tersebut belum menemukan titik temu.
Akbar menyebut pihak kendaraan travel masih mengajukan tuntutan ganti rugi karena merasa dirugikan.
“Kami berupaya menyelesaikan secara baik-baik melalui mediasi,” ujarnya. [haf/pranala.co]
Tidak ada komentar