Menelusuri Danau Purba di Jantung Kalimantan

Redaksi
15 Apr 2021 00:38
4 menit membaca

BALIKPAPAN – Siapkan memori card tambahan untuk kamera Anda, sebelum berkunjung ke Taman Nasional Danau Sentarum di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sepasang enggang yang bercengkerama di pepohonan, orangutan yang bergelantungan di habitatnya, serta keindahan alamnya, tidak akan pernah Anda jumpai di belahan bumi mana pun selain di sini, tepat di Jantung Kalimantan.

Sentarum, danau purba di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, diyakini terbentuk dari zaman es atau periode Pleistosen, mengandung 266 spesies ikan yang 78 persen di antaranya adalah endemik. Ikan bernilai ekonomi seperti gabus, toman, lais, dan belida, juga menjadi penghuni dalam air danau yang menghitam kemerahan, warna alami khas gambut.

Pepohonan yang menjulang di tengah dan sekitar danau juga menjadi rumah terbaik bagi lebah madu hutan (Apis dorsata) untuk bersarang. Siapa mengira, kepingan surga ini beberapa kali porak-poranda “dihajar” pembalak liar, kebakaran, serta eksploitasi serampangan.

“Dulu, warga yang malas menebar jala cukup menuangkan tuba (racun). Tunggu sekian menit maka ikan akan mengambang, siap diraih. Tapi sayang, telur dan anak ikan ikut mati,” kenang Basri Wadi, nelayan Danau Sentarum.

Menelusuri Danau Purba di Jantung Kalimantan

Nelayan melempar ikan bilis hasil tangkapan dengan menggunakan warin atau alat jaring ke dalam keramba apung berisi ikan toman di Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kapuas Hulu | Foto: Hs Poetra

Pria yang akrab disapa Pak Uge ini adalah satu dari 92 kepala keluarga penghuni Kampung Semangit, Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, yang menggantungkan hidupnya dengan mencari nafkah di kawasan Danau Sentarum.

Ikan hasil tangkapannya diolah menjadi kerupuk dan salai setelah melalui proses penjemuran dan pengasapan berjam, bahkan berhari. Hampir di setiap beranda rumah penduduk Semangit, akan dijumpai ikan berbagai ukuran terpapar teriknya sinar matahari.

Selain beternak ikan toman, Pak Uge sudah tiga tahun menjalankan amanah sebagai Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) setelah didaulat oleh kelompok petani madu tradisional (periau) yang dibentuk medio 2006.

Menelusuri Danau Purba di Jantung Kalimantan

Warga Semangit menjemur ikan bilis yang nantinya akan diolah menjadi ikan salai asap. Ikan bilis dapat menjadi pakan ikan toman | Foto: Hs poetra

Periau tak hanya memanfaatkan sarang lebah alami di pohon. Mereka juga membuat tikung (dahan buatan) yang dipasang di pohon agar lebah datang bersarang.

Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia melalui Konsorsium Dian Tama melihat potensi di Semangit, bergerak mendampingi para periau mengelola madu dengan teknik panen madu lestari untuk mendapatkan kualitas madu bermutu tinggi.

“Madu asal Danau Sentarum sejak lama sudah dikenal masyarakat luas. Hanya saja dalam pengolahannya belum diproses secara higienis. Proses panen kala itu, juga tidak memikirkan keberlangsungan hidup lebah, karena semua sarang diambil,” kata Thomas Irawan Sihombing, Project Manager Konsorsium Dian Tama.

Kini teknik pemanenan madu lestari pun berkembang. Petani madu tak lagi memanen malam hari, karena menyebabkan tingginya angka kematian lebah. Pisau untuk memanen pun menggunakan stainless steel antikarat. Prosedur pengolahan juga harus menggunakan sarung tangan karet, saringan dan wadah tertutup untuk menjaga kebersihan dan kualitas madu.

Menelusuri Danau Purba di Jantung Kalimantan

Unin (100 tahun) warga Kampung Semangit mengisi hari dengan membuat keranjang dari rotan. Kerajinan tangan ini kemudian akan dijual ke warga sekitar untuk digunakan sebagai tempat membawa ikan | Foto: Hs Poetra

“Teknik pemotongan sarang lebah juga tidak seperti dulu, dipotong sampai habis. Sekarang petani hanya memotong bagian kepala madu sarang sehingga bagian sarang yang berisi anak lebah tidak terpotong karena dalam tiga minggu akan tumbuh kembali,” sambung Irawan.

Kini kesejahteraan para periau mulai membaik. “Dulu per kilogram madu hanya dihargai Rp20 ribuan. Namun semenjak ada program pendampingan LSM, harga madu Sentarum mencapai Rp140 ribu per kilogram,” tutur Suharjo, petani madu generasi ke empat dari Kampung Semangit.

Sentarum ibarat magnet dengan sejuta pesona di dalamnya. Deru mesin speedboat hilir mudik memecah kesunyian danau, dan geliat para periau yang menjemput impian sungguh nyata di atas tanah mereka sendiri. ***

 

Sumber: Di-posting ulang dari Mongabay Indonesia

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }
news-1612-mu

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

ayowin

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

maujp

80016

80017

80018

80019

80020

80021

80022

80023

80024

80025

80026

80027

80028

80029

80030

82001

82002

82003

82004

82005

82006

82007

82008

82009

82010

82011

82012

82013

82014

82015

82096

82097

82098

82099

82100

82101

82102

82103

82104

82105

82106

82107

82108

82109

82110

82016

82017

82018

82019

82020

82021

82022

82023

82024

82025

82111

82112

82113

82114

82115

80081

80082

80083

80084

80085

82026

82027

82028

82029

82030

82031

82032

82033

82034

82035

82116

82117

82118

82119

82120

80096

80097

80098

80099

80100

80101

80102

80103

80104

80105

80107

80108

80109

80110

80111

80112

80113

80114

80115

80156

80157

80158

80159

80160

80161

80162

80163

80164

80165

80166

80167

80168

80169

80170

82036

82037

82038

82039

82040

82041

82042

82043

82044

82045

82046

82047

82048

82049

82050

82051

82052

82053

82054

82055

82121

82122

82123

82124

82125

82126

82127

82128

82129

82130

82131

82132

82133

82134

82135

82136

82137

82138

82139

82140

80171

80172

80173

80174

80175

80176

80177

80178

80179

80180

82056

82057

82058

82059

82060

82061

82062

82063

82064

82065

82141

82142

82143

82144

82145

82146

82147

82148

82149

82150

80182

80183

80184

80186

80188

80189

80190

80191

80193

80194

80195

82066

82067

82068

82069

82070

82071

82072

82073

82074

82075

82076

82077

82078

82079

82080

80196

80197

80198

80199

80200

80201

80202

80203

80204

80205

80206

80207

80208

80209

80210

82081

82082

82083

82084

82085

82086

82087

82088

82089

82090

82091

82092

82093

82094

82095

82151

82152

82153

82154

82155

82156

82157

82158

82159

82160

82161

82162

82163

82164

82165

82166

82167

82168

82169

82170

news-1612-mu