
Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara.SANGATTA – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) sepanjang 2024 melesat tinggi. Angkanya mencapai 9,82 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya sekira 5 persen.
Namun, di balik laju kencang itu, ada satu fakta yang tak bisa diabaikan: Kutim masih sangat bergantung pada batu bara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, kontribusi sektor tambang terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim tembus 75,53 persen. Angka ini jauh mengungguli sektor lainnya.
“Dominasi tambang memang sangat besar. Tapi perlu diingat, sektor ini tidak menyerap banyak tenaga kerja jika dibandingkan dengan sektor pertanian,” kata Kepala BPS Kutim, Widiyanto, di Sangatta, Senin (11/8/2025).
Meski PDRB meningkat signifikan, tidak semua warga Kutim merasakan dampak langsungnya. BPS mencatat, PDRB per kapita justru turun 6,75 persen dibanding tahun sebelumnya. Penyebabnya, laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibanding pertumbuhan ekonomi.

Sektor pertanian justru tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Namun, sumbangan ekonominya belum mampu menandingi batu bara.
“Pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi masih menjadi tantangan,” ujar Widiyanto.
Ketergantungan yang terlalu besar pada komoditas tambang membuat perekonomian Kutim rentan. Saat harga batu bara jatuh pada 2024, indeks implisit Kutim anjlok dari 160,81 menjadi 138,76.
“Ketika harga batu bara turun, dampaknya langsung terasa di PDRB. Sektor lain mungkin naik, tapi pengaruhnya tertutup oleh dominasi tambang,” jelas Widiyanto.
BPS menilai, pemerintah daerah perlu bergerak cepat menyiapkan penyangga ekonomi. Diversifikasi menjadi kata kunci.
Salah satu caranya, mengembangkan industri pengolahan serta memperkuat sektor pertanian dan perkebunan. Dengan begitu, Kutim tidak lagi terpaku pada satu komoditas yang nasibnya ditentukan pasar global. (HAF)

Tidak ada komentar