Nestapa Sopir Angkot di Bontang, Bertahan saat Harga BBM Naik dan Sepinya Penumpang

oleh -6 views
Nestapa Sopir Angkot di Bontang, Bertahan saat Harga BBM Naik dan Sepinya Penumpang
Deretan angkot mengetem di Terminal Bus Bontang, Kanaan, Bontang Barat, Rabu (21/9/2022). Foto: Sulaiman

newsborneo.id – Sekira 7 sopir angkot alias angkutan kota duduk menunggu penumpang dengan harap-harap cemas menunggu kantong bisa terisi di Terminal Bus Bontang, Kecamatan Bontang Barat, Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (21/9/2022).

Memang tempat itu kerap dijadikan titik kumpul sopir angkot. Sembari menyusun rencana keliling menunggu penumpang. Menikmati pagi dengan secangkir kopi dan sebungkus roti diiringi lagu lama ‘BBM Naik Tinggi’.

Setelah menerima informasi kenaikan harga BBM sejak dua pekan lalu, Paulinus (63) bersama dengan rekannya yang lain hanya bisa gigit jari. Pendapatan yang naik-turun, kemudian dihadapkan dengan harga BBM dinilai hanya menambah bebannya.

Sementara tarif angkot masih gunakan tarif batas bawah sebesar Rp 5.600, tergantung dari jarak penumpang. Harga itu mengacu aturan pada tahun 2015, saat harga BBM jenis premium masih seharga Rp 7.600 per liter.

“Makin hari makin pusing aja ini. Masalahnya naksi (sebutan sopir) satu-satunya tempat cari rezeki,” ujar Linus sapaan dia.

Memiliki tanggungan seorang anak yang bersekolah di SMK Negeri 1 Bontang dan seorang istri. Linus merasa kebingungan lantaran pulang ke rumah hanya bisa bawa cuan di saku sebesar Rp 30 ribu.

Uang itu hanya dipakai buat makan dan mengisi angkot pakai bensin eceran. Ia bakal kelimpungan bila mobil rusak. Harus berani utang ke bengkel langganan dengan waktu bayar, entah kapan.

“Mobil itu biasa saya isi dua botol minyak. Sisanya dibagi buat makan,” kata Linus yang sudah jadi sopir angkot Bontang sejak 1992.

Terpaksa Jual Mobil ke Pengepul Besi Tua

Kondisi terparah, dia ceritakan terjadi pada PPKM Jilid II tahun lalu. Saat itu, ia terpaksa menjual satu mobilnya ke pengepul besi tua. Laku Rp 3 juta. Uang itu ia pakai buat beli beras enam karung.

Tahun ini, bukannya dapat jalan terang. Justru, dia bilang pekerjaan sebagai sopir hanya semakin terpuruk dengan kebijakan pemerintah.

Bahkan, Linus mengaku tidak pernah disentuh oleh bantuan pemerintah. Padahal menurut dia, dirinya masuk dalam kategori masyarakat tidak mampu yang seharusnya dapat bantuan. “Kenapa ini pemerintah, tidak mau kasih perhatian serius ke kami sopir angkot ini,” jawab dia menggerutu.

Nasib sama dialami Muhammad Tang. Sopir angkot yang biasa mangkal di terminal itu harus memangkas trayek demi menghemat BBM angkot miliknya. Biasanya dia mencari penumpang hingga pasar Ido Niaga, Berbas Tengah, kini harus putar balik bila mobil sudah melewati Mako Polres Bontang.

Apesnya lagi, hingga pukul 12.00 Wita siang tadi, belum satu pun penumpang yang mau diantarkan oleh angkot miliknya. “Ini sampai jam 12 belum ada penumpang. Mau bagaimana sudah kalau begini?” tanya dia kesal.

Belum lagi, bila hendak mengantre BBM bersubsidi. Sering ia dapati mobil mewah milik pribadi mengantre bersama. Membuat antrean panjang. Menunggu masa antrean, kerap dirinya kehabisan waktu hanya untuk memberi “minum” angkotnya.

“Coba lah itu mobil mewah jangan juga pakai pertalite yang sudah disubsidi pemerintah. Mampu ko padahal beli mobil mewah, masa ikut antre disitu juga. Isi pertamax lah sana,” ujar dia.

Sementara itu, Kasi Angkutan Dishub Welly Zakius menyatakan saat ini pihaknya masih menunggu aturan tarif terbaru dari Dishub Provinsi Kaltim. Dia bilang, pekan ini bakal akan segera membahas hal tersebut dalam menentukan tarif batas atas angkot Bontang.

“Kami masih menunggu aturan dari provinsi mas, mungkin minggu ini sudah mulai dibahas dengan organda,” ujar dia. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.