Innalillahi, Korban Tabrakan Ketinting di Sungai Mahakam Ditemukan Tewas

oleh -8 views
Innalillahi, Korban Tabrakan Ketinting di Sungai Mahakam Ditemukan Tewas
Tim SAR saat mengevakuasi jasad Taufik Fahroji korban kecelakaan air di Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara pada Sabtu (3/9/2022) dini hari. (Foto: Basarnas Kaltim)

newsborneo.id – Tim SAR gabungan akhirnya menemukan Taufik Fahroji (21), korban tabrakan ketinting yang sempat hilang tenggelam di Sungai Mahakam, Desa Kota Bangun Ilir, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Sabtu (3/9/2022) dini hari.

Jasad pria berusia 21 tahun itu ditemukan mengambang dalam kondisi sudah meninggal dunia sejauh 1 kilometer ke arah hilir dari titik korban dinyatakan hilang tenggelam seusai ketinting yang ditumpanginya tabrakan dengan ketinting lainnya, Rabu (31/8/2022).

Kepala Basarnas Kelas A Kaltim Melkianus Kotta menyampaikan korban ditemukan oleh petugas sekira pukul 00.10 WITA. Lalu, jasad korban yang berhasil dievakuasi di bawa ke rumah duka untuk kemudian dimakamkan.

“Ditemukannya korban Taufik, maka operasi SAR pencarian korban selama dua hari ini kami nyatakan berakhir dan ditutup sekira pukul 00.30 WITA,” ungkap Melky.

Dalam operasi pencarian ini melibatkan Unit SAR Samarinda Basarnas Kaltim, Polri, TNI, BPBD Kukar dan ragam unsur relawan hingga warga.

Kronologi kejadian hilangnya Taufik Fahroji bermula ketika korban bersama rekannya bernama Abu Thalib hendak kembali ke Kapal Sumber Rejeki setelah mencari kebutuhan sehari-hari di Desa Kota Bangun Ilir.

Saat itu, kedua orang tersebut menggunakan ketinting tanpa dilengkapi penerangan. Nahas, ketika menyeberang Sungai Mahakam menuju ke kapal tempat mereka bekerja, tiba-tiba saja datang ketinting yang dikendarai Agus.

Peristiwa mengerikan terjadi karena kondisi gelap saat itu membuat kedua ketinting bertabrakan. Insiden ini mengakibatkan ketinting yang ditumpangi Taufik dan Thalib seketika terbalik.

Agus sempat berupaya melakukan pertolongan terhadap kedua korban yang tercebur ke Sungai Mahakam. Namun hanya Thalib yang dapat selamatkan sedangkan Taufik tenggelam karena kondisi arus sungai yang sangat deras.

Disampaikan, minimnya penerangan kedua ketinting menjadi penyebab kecelakaan air tersebut. Diketahui Taufik dan Thalib saat itu hanya menggunakan penerangan senter dari telepon genggam.

Sementara itu, Agus Mera yang mengemudikan ketinting seorang diri malah tidak menggunakan penerangan sama sekali karena senter yang biasa digunakan sedang rusak. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.