Kadisbun Kaltim Pusing Lihat Harga TBS Sawit Anjlok Mulu

oleh -35 views
Kabar Baik dari Menteri Keuangan soal Dana Bagi Hasil Sawit
Ilustrasi. Kadisbun Kaltim Pusing Lihat Harga TBS Sawit Anjlok Mulu

SAMARINDA, newsborneo.id – Kepala Dinas Perkebunan, Kalimantan Timur (Kadisbun Kaltim), Ujang Rachmad ikut pusing anjloknya harga TBS sawit  (Tandan Buah Segar) sawit hingga menyentuh Rp800 per kilogram sejak dua pekan terakhir.

Wajar saja Kadisbun Ujang puyeng. Petani sawit di Kaltim merugi. Sebab, harga saat ini tak mencukupi untuk biaya produksi. Mulai dari panen, pengangkutan dan lainnya.

Dia khawatir jika harga tidak kembali normal seperti sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 3,3 juta per ton akan sangat berdampak pada pendapatan petani. Dia pun ikut pusing.

“Jika harga tidak kembali normal, kalau dua bulan harga enggak berubah bisa hancur? Iya itu yang jadi kekhawatiran saya, terus terang puyeng,” katanya.

Menurut Ujang, saat ini nilai tukar petani (NTP) Kaltim yang menjadi indikator kesejahteraan petani juga turun menjadi 152. Sebelumnya 186 saat harga sawit masih normal.

Pada saat harga 3,3 juta per ton NTP Kaltim itu 186, (NTP indikator kesejahteraan petani bulan lalu sudah 152.

Kata dia, pembangunan perkebunan berkelanjutan dilihat dari sisi ekonomi. Maka untuk kesejahteraan petani atau masyarakat dilihat dari harga komoditas yang tercapai atau normal.

“Kalau harga rendah, ya artinya kalau tujuan kita untuk mensejahterahkan masyarakat melalui harga komoditas yang baik itu enggak tercapai. Itu yang menjadi kegalauan saya saat ini,” ujarnya

Dia menjelaskan, harga komoditas perkebunan selama ini selalu bergantung pada pasar. Sehingga ketika ada intervensi akan menganggu ekosistem dan terjadi gangguan keseimbangan

Seperti diketahui, sejak pemerintah melarang ekspor CPO kemudian harga sawit anjlok. Sehingga kemudian untuk kembali normal seperti sebelumnya, butuh proses yang lama.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Dari dulu harga komoditas perkebunan itu selalu bebas dipengaruhi pasar. Begitu ada intervensi, gangguan ekosistem, gangguan keseimbangannya itu makin parah dan akibatnya pada proses recovery-nya agak lama.

Dia menyebut, meski larangan ekspor telah dicabut tak serta merta mengembalikan harga TBS sawit. Karena di pasar dunia internasional harga sawit juga bergerak naik turun.

Anjlok Lagi, Harga TBS Sawit di Paser Rp700-900 per Kg

Turunnya harga tandan buah segar, harga TBS sawit terjadi di semua wilayah. Tak terkecuali di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim). Harga TBS sawit tiap kilogram saat ini Rp700-900 per kg.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Paser Djoko Bawono mengatakan, hasil pemantauan memang harga TBS sawit turun menjadi Rp700-900 per kg.

“Kami melakukan pemantauan di tingkat loading ramp harga,” katanya mengutip, Kamis (30/6/2022).

Dijelaskan, turunnya harga TBS sawit terjadi hampir di seluruh wilayah tanpa terkecuali di Kabupaten Paser. Kondisi ini menurutnya, bisa diatasi dengan kemitraan antara kelompok tani dan pihak perusahaan.

“Kami menginginkan adanya kemitraan antara petani dan perusahaan kelapa sawit agar bisa mengikuti harga TBS yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Kaltim, ini pentingnya kemitraan,” ujar Djoko.

Dijelaskannya, saat ini harga TBS kelapa sawit berdasarkan penetapan harga dari Pemprov Kaltim yang telah ditetapkan oleh tim penetapan harga yakni kisaran Rp2.500.

Sejauh ini di Kabupaten Paser, ada dua kelompok tani yang bermitra dengan perusahaan yakni KUD Tani Subur Desa Rangan Kecamatan Kuaro dengan PT. Buana Wirasubur Sakti (BWS), dan Gabungan Kelompok Tani Bersatu Desa Laburan Kecamatan Pasir Belengkong dengan PT. Borneo Indah Marjaya (BIM).

Dalam kemitraan itu, sambungnya, petani memilih harga pasar yang menjadi acuan pembayaran TBS sehingga mereka harus mengikuti harga pasar.

“Karena pada saat itu sebelum harga TBS anjlok, harga pasar lebih tinggi dari harga yang ditetapkan pemerintah. Saat ini harga TBS berdasarkan penetapan Pemprov Kaltim di kisaran Rp2.500,” jelas Djoko.

Sementara itu, Ketua KUD Tani Subur Desa Rangan Kecamatan Kuaro Chandara mengatakan, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa melainkan mengikuti harga pasar yang berlaku saat ini.

“Kalau di PT BWS harganya Rp1.050 per kilogram,” akunya. (dias/re)

No More Posts Available.

No more pages to load.