Cekcok dengan Suami, Ibu di Samarinda Diduga Siksa Anaknya Berusia 11 Bulan

oleh -11 views
Ilustrasi.

SAMARINDA, newsborneo.id – Jagat maya dihebohkan video seorang ibu di Samarinda, Kaltim diduga melakukan tindak kekerasan kepada anaknya sendiri, berusia 11 bulan.

Tindakan itu terekam tiga video berdurasi masing-masing 18, 18, dan 19 detik. Dalam video itu, tampak tangannya memegang leher dan memiting leher putranya. Dia juga mengancam agar suaminya pulang ke rumah.

Putranya dihadapkan ke layar gawai. Lalu, sang ibu mencubitnya sembari mengeluarkan nada ancaman. “Kamu endak mau pulang, ni anakmu ni kumatiin ni, hm , nangis, nangis, terus,” ucap Ibu itu dalam video berdurasi 18 detik.

Video kedua berdurasi 18 detik, sang ibu tega memukul kepala belakang anaknya empat kali. Putranya itu hanya menangis. Disusul rekaman ketiga berdurasi 19 detik, bayinya yang tertidur di pangkuannya sambil minum susu menggunakan dot, diremas di bagian kepala. Lalu tangan sang Ibu turun ke leher dan mencubit pundak depan balita tersebut.

“Hm, kujemek-jemek anakmu, nangis, nangis,” ucapnya lagi.

Semua video itu kemudian dikirim Ibu ke suaminya. Khawatir dengan keadaan sang anak, sang suami pun melaporkan hal tersebut ke orangtuanya.

Aksi sadisnya itu pun sampai ke telinga Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Koordinator Wilayah Kaltim. Setelah melakukan koordinasi dengan ketua RT setempat dan aparat kepolisian, mereka langsung mendatangi kediaman sang Ibu di Kecamatan Palaran, Samarinda, Senin (27/6/2022).

“Kakek korban yang melaporkannya. Kalau cucunya mengalami kekerasan ibu kandungnya sendiri,” ujar Rina Zainun, Ketua TRC PPA Kaltim dikonfirmasi awak media, Selasa (28/6/2022).

Sang Ibu sempat diamankan ke Polsek Palaran untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Kepada polisi, dia mengaku menyiksa anaknya lantaran kesal dengan sang suami. Sebelumnya mereka sempat terlibat cekcok dan membuat suaminya pergi dari rumah.

Sementara saat ditinggal, Sang ibu tadi sedang dalam keadaan hamil. Karena inilah, TRC PPA menduga AP mengalami perasaan depresi atau baby blues.

Saat dimintai keterangan sang suami juga membenarkan keterangan istrinya. Ia terpaksa pergi dari rumah karena tak tahan selalu cekcok dengan istiri karena masalah ekonomi.

Permasalahan ini akhirnya tak sampai ke ranah hukum. Pasangan suami istri ini hanya diminta untuk membuat surat pernyataan agar tidak melakukan tindakan yang melibatkan anak mereka lagi.

“Sudah selesai mediasi, keduanya hanya diminta surat pernyataan. Meski begitu kami terus lakukan pendampingan agar tidak terulang lagi,” kata Rina.

Lanjut Rina, pihaknya juga akan melakukan pendampingan psikis terhadap kejiwaan sang Ibu. Kejadian ini juga tidak serta merta menyalahkan sang ibu, kendati terbukti melakukan penyiksaan.

“Kejadian seperti ini bukan pertama kali, banyak sekali kasusnya. Maka itu kami perlu lakukan pendampingan psikis terhadap ibunya,” kata Rina. (das/re)

No More Posts Available.

No more pages to load.