Lebaran Dilarang Mudik, Ini Curhatan Organda Kaltim

oleh -44 views

SAMARINDA – Demi memangkas penyebaran virus Covid-19, Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor melarang warganya pulang kampung. Baik itu di luar Benua Etam maupun mudik lokal. Meski demikian kebijakan tersebut juga berimbas kepada pengusaha moda transportasi. Dari jalur darat misalnya, yang terseok-seok karena pandemik ini.

“Ya, kalau (larangan mudik) berpengaruh dengan dari segi pendapatan betul. Tapi kami harus terima dengan lapang dada,” ujar Ambo Dalle, Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Kaltim, Kamis (6/5).

Ambo Dalle punya alasan sendiri menyatakan demikian. Sebab bila bicara dari aspek hitungan pendapatan memang memberikan dampak yang benar-benar signifikan. Merugi sudah pasti. Namun persoalan corona ini tak bisa dianggap sepele. Dari statistik yang ada bisa dilihat. Data terakhir Satgas Penanganan COVID-19 Kaltim sebanyak 1.658 orang sudah jadi korban. Dan tiap hari jumlahnya bertambah.

“Karena pandemik ini semua bisa dimaklumi. Berat memang tapi harus tabah dihadapi,” akunya.

Persoalan larangan mudik ini terhitung dua kali dihadapi Organda Kaltim, tahun lalu dan sekarang. Masalahnya serupa, corona. Namun jika dibandingkan dengan 2020, tahun ini jauh lebih terasa gempurannya.

Ambo Dalle tak menampik hal tersebut. Gegara COVID-19 penumpangnya merosot drastis. Baik itu dalam angkutan dalam kota, antarkota hingga antarprovinsi. Bahkan dia mengaku penurunannya hingga 70 persen dan bisa lebih dari itu.

“Bayangkan saja, dari seat untuk 50 penumpang hanya diisi 8 orang saja. Dulu, biasanya bisa dapat 45 kursi. Jauh di bawah standar,” akunya.

Anggota Organda Kaltim tersebar luas di 10 kabupaten/kota di provinsi ini. Dan yang tergabung di dalamnya tak hanya pengusaha moda transportasi saja, tapi juga para sopir dan kernetnya. Jumlahnya keseluruhan ada ribuan orang.

Sehingga saat larangan mudik ini diberlakukan maka efek yang dirasakan berganda. Sebagai ketua, Ambo Dalle tak bisa berbuat banyak. Menghindar pun tak bisa. Itu sebab dirinya hanya bisa tawakal. Keluhan dari pekerja sudah pasti.

“Anak buah saja mengeluh, apalagi bosnya. Semuanya mengeluh. Bahkan ada yang berhenti (mengundurkan diri). Saya tak pernah menghalangi mereka, malah mendoakan di tempat lain bisa dapatakan yang lebih,” tandasnya mengutip IDN Times.

Dia pun berharap pandemik COVID-19 ini segera tuntas. Dan dalam waktu dekat atau tahun depan semua kembali normal. Transportasi ini penting bagi warga, sebab tak semua orang punya kendaraan pribadi yang membawanya ke daerah lain. Namun intinya saat ini semua kendala harus dihadapi dengan doa.

“Mau nangis pun air matanya sudah gak ada. Jadi ya, pasrah saja kepada Allah. Yang penting kita berbuat yang terbaik. Itu saja,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Basuki DH 

No More Posts Available.

No more pages to load.