Siapkan Investasi US$ 2 Miliar, Pupuk Kaltim Dirikan Pabrik di Bintuni

oleh -106 views
Dirut PT Pupuk Kaltim (PKT) Rahmad Pribadi

JAKARTA – Menyiapkan dana investasi US$ 2 miliar, PT Pupuk Kaltim berencana membangun pabrik pupuk di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Pupuk Kaltim sudah mendapatkan lampu hijau untuk mendapatkan gas dari Genting Oil Kasuri Pte Ltd (GOKL). Saat ini, perusahaan sedang menunggu hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Konsep sudah siap dan kini kami sedang melakukan negosiasi. Kalau izin sudah keluar, pembangunan pabrik langsung jalan,” kata Dirut PT Pupuk Kaltim (PKT) Rahmad Pribadi pada buka puasa bersama sejumlah pemimpin redaksi di Jakarta, Senin (26/4).

Selama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan dukungan agar ada pabrik pupuk di Papua dan lokasi dekat lokasi perusahaan gas.

Selain LNG Tangguh, ada cadangan gas lainnya di Bintuni yang kini dikelola Genting Oil Kasuri Pte Ltd (GOKL), perusahaan asal Malaysia. Dengan luas 18.658 km2 dan jumlah penduduk 53.564 jiwa, Teluk Bintuni adalah kabupaten yang kaya akan sumber daya alam. Kabupaten ini tidak hanya punya hutan alam, bakau, aneka ragam hayati, tapi juga memiliki cadangan minyak dan gas bumi.

Rahmad mengharapkan proses Amdal bisa berjalan lebih cepat, tidak sampai dua tahun sebagaimana selama ini. Jika Amdal selesai, perizinan lainnya akan lancar.

“Kita berharap tahun depan semuanya sudah bisa selesai agar pabrik bisa segera dimulai,” ungkapnya.

Dana investasi US$ 2 miliar atau sekitar Rp 29 triliun pada kurs Rp 14.500 untuk membangun pabrik pupuk di Bintuni, kata Rahmad, berasal dari modal sendiri dan sumber pendanaan lainnya.

Ada opsi mendapatkan dana dari pasar modal lewat initial public offering (IPO), pinjaman, atau dari Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau sovereign wealth fund (SWF). “Saya tertarik dengan SWF, akan segera saya dalami,” ujarnya.

Mulai beroperasi April 2021 dengan ekuitas awal Rp 75 triliun, SWF diharapkan mampu menarik dana asing dan dalam negeri untuk membantu pembiayaan berbagai proyek investasi pemerintah, termasuk proyek infrastruktur yang dibangun BUMN.

Saat ini saja, komitmen investasi asing di SWF sudah menembus US$ 8 miliar atau Rp 116 triliun. Saat ini, PT PKT memiliki ekuitas Rp 22 triliun. “Perusahaan tidak punya utang. Modal sebesar ini sebagian besar berasal dari laba ditahan dan sisanya dari penyertaan modal negara (PNM),” kata Rahmad.

Pada tahun 2020, PT PKT meraih laba bersih Rp 1,8 triliun. Ini bisa terjadi karena selama pandemi, pabrik beroperasi penuh. Pupuk merupakan komoditas strategis yang menopang sektor pertanian dan pangan. Itu sebabnya, kata Rahmad, selama pandemi, kegiatan produksi berjalan normal. Permintaan akan pupuk sempat turun dalam beberapa bulan awal, tapi kemudian meningkat kembali.

Jika pabrik pupuk di Kabupaten Teluk Bintuni sudah mulai produksi, kemajuan di Papua Barat dan Papua akan terakselerasi. Pembangunan infrastuktur akan berkembang dan sektor pertanian akan maju.

“Kalau sampai pecah telur, kemajuan wilayah sekitar akan berjalan lebih cepat,” ungkap Rahmad.

Saat ini, PT PKT mengoperasikan tujuh pabriknya di Bontang, Kalimantan Timur dengan memproduksi 3,4 juta ton urea dan 300 miliar ton NPK setahun. Selain itu, perseroan juga memproduksi biofertilizier 300 ton dan speciality fertilizer 3.000 ton per tahun. Anak perusahaan PT Pupuk Indonesia ini juga memproduksi amoniak 2,7 juta ton per tahun dan ammonia nitrate 75.000 ton per tahun.

Dari produki urea 3,4 juta ton, PT PKT mengekspor 1,7 juta ton. Ekspor terbesar ke negara-negara ASEAN di luar Malaysia, India, dan Korea. PT PKT adalah produsen urea terbesar di Indonesia.

PT PKT juga mengelola 7.400 hektare lahan sawit yang sudah panen. Pabrik CPO pun sudah beroperasi dengan kapasitas 45.000 ton. Ke depan, perseroan akan perluas lahan sawit untuk menopang bahan baku energi terbarukan.
Pada tahun 2022 hingga 2025, PT PKT bencana merealisasikan pabrik ammonia bintuni 830.000 ton, urea bintuni 1,1 juta ton, dan methanol bintuni satu juta ton per tahun. Sedang di lokasi yang sama di Bontang, perseroan sedang membangun amonium nitrate 75.000 ton dan tahun depan, 2022, sudah 300.000 ton per tahun. **

 

Penulis: Junaidi | Kontan

No More Posts Available.

No more pages to load.